Bangunan Pengatur Sungai

1.1UMUM
1. Pengertian
Bangunan pengaturan sungai adalah suatu bangunan air yang dibangun pada sungai dan berfungsi : mengatur aliran air agar tetap stabil  dan sebagai pengendalian banjir.
2. Jenis-jenis Bangunan Pengaturan Sungai
a. Perkuatan lereng
b. Pengarah arus (krib) atau pelindung tebing tidak langsung
c. Tanggul
d. Dam penahan sedimen (check dam)
e. Ground sill
1.2. MORFOLOGI SUNGAI
1. Umum
Morfologi sungai merupakan hal yang menyangkut tentang geometri, jenis, sifat, dan perilaku sungai dengan segala aspek perubahannya dalam dimensi ruang dan waktu, dengan demikian menyangkut sifat dinamik sungai dan lingkunagannya yang saling berkaitan.

2. Perilaku Sungai

Sungai adalah suatu saluran drainase yang terbentuk secara alamiah. Akan tetapi disamping fungsinya sebagai saluran drainase, dan dengan adanya air yang mengalir didalamnya, sungai menggerus tanah dasarnya secara terus menerus sepanjang masa eksistensinya dan terbentuk lembah sungai. Volume sedimen yang sangat besar yang dihasilkan dari keruntuhan tebing. Tebing sungai di daerah pegunungan kemiringan sungainya curam, gaya tarik aliran airnya cukup besar. Tetapi setelah aliran sungai mencapai dataran, maka gaya tariknya sangat menurun. Dengan demikian bebanyang terdapat dalam arns sungai berangsur-angsur diendapkan. Karena itu ukuran butir sedimen yang mengendap di bagian hulu, sungai itu lebih besar dari pada di bagian hilir.

Dengan terjadinya perubahan kemiringan yang mendadak pada saat alur sungai keluar dari daerah pegungan yang curam dan memasuki dataran yang lebih landai, pada lokasi ini terjadi pengendapan yang sangat intensif yang menyebabkan mudah berpindahnya alur sungai dan terbentuk apa yang disebut kipas pengendapan. Pada lokasi tersebut sungai bertambah lebar dan dangkal, erosi dasar sungai tidak lagi terjadi, bahkan sebaliknya terjadi pengendapan yang sangat intensif. Dasar sungai secara terus menerus naik, dan sedimen yang hanyut terbawa arus banjir tersebut dan mengendap secara luas membentuk dataran aluvasi.

Pada daerah dataran yang rata alur sungai erosi pada tebing bagian luar belokan yang berlangsung sangat intensif, sehingga terbentuk meander. Dalam keadaan tersebut apabila terjadi debit banjir yang besar dapat
menimbulkan luapan dan tergerusnya dinding bagian luar belokan sungai. Untuk mengatasi hal tersebut dapat dibuat sudetan yaitu saluran baru yang bertujuan untuk melangsungkan aliran debit banjir dari titik awal (hulu) ketitik akhir (hilir) meander. Sudetan dapat juga dibuat untuk mengalihkan sebagian debit banjir ke sungai yang lain yang berdekatan.

1.3. PERKUATANLERENG
1. Umum
Perkuatan lereng (revetments) adalah bangunan yang ditempatkan pada permukaan suatu lereng guna melindungi suatu tebing aIur sungai atau permukaan lereng tanggul dan secara keseluruhan berperan
meningkatkan stabilitas alur sungai atau tubuh tanggul yang dilindunginya. Telah terjadi pengembangan yang sangat lanjut terhadap konstruksi, salah satu bangunan persungaian yang sangat vital ini dan pada saat ini telah dimungkinkan memilih salah satu konstruksi, bahan dan cara pelaksanaan yang paling cocok disesuaikan dengan berbagai kondisi setempat. Walaupun demikian konstruksi perkuatn lereng secara terus
menerus dikembangkan dan disempurnakan.
2. Klasifikasi dan Konstruksi Perkuatan Lereng
Klasifikasi perkuatan lereng berdasarkan lokasi, perkuatan lereng terdiri atas 3 jenis yaitu : perkuatan lereng tanggul (levee revetment), perkuatan tebing sungai (low water revetment) dan perkuatan lereng menerus (high water revetment).

(a) Perkuatan lereng tanggul
Dibangun pada permukaan lereng tanggul guna melindungi terhadap gerusan arus sungai dan konstruksi yang kuat perlu dibuat pada tanggul-tanggul yang sangat dekat dengan tebing alur sungai atau apabila diperkirakan terjadi pukulan air (water hammer).

(b) Perkuatan tebing sungai
Perkuatan semaeam ini diadakan pada tebing alur sungai, guna melindungi tebing tersebut terhadap gerusan arus sungai dan meneegah proses meander pada alur sungai. Selain itu harus diadakan
pengamanan-pengamanan terhadap kemungkinan kerusakan terhadap bangunan semaeam ini, karena disaat terjadinya banjir bangunan tersebut akan tenggelam seluruhnya.
(c) Perkuatan lereng menerus
Perkuatan lereng menerus dibangun pada lereng tanggul dan tebing sungai seeara menerus (pada bagian sungai yang tidak ada bantarannya).
Konstruksi perkuatan lereng dapat dikombinasi dengan : pelindung lereng, pondasi dan pelindung kaki, sambungan,konsolidasi, pelindung mercu.

3. Perencanaan perkuatan lereng
Pada tahapan pereneanaan (planing) untuk perkuatan lereng haruslah dipelajari seeara seksama pengaruh-pengaruh :
a. Proses perubahan alur sungai
b. Gejala meander
e. Hidrolika pada belokan-belokan sungai
d. Rencana trase perkuatan lereng

Dalam merencanakan trase pekuatan lereng hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
a. Penentuan trase perkuatan lereng harns dicocokkan dengan kondisi lapangan sehingga dapat ditetapkan metode pelaksanaan yang cocok dengan kondisi setempat.
b. Kurva trase perkuatan lereng diusahakan sebesar mungkin supaya arah trase rencana sesuai dengan arah aliran saat terjadi banjir besar.
c. Trase perkuatan lereng ditempatkan sedemikian rupa dihindarkan sehingga dapat dihindarkan pusaran-pusaran yang tidak teratur.
d. Trase perkuatan tebing alur sungai ditempatkan lebih kebelakang.
e. Pemilihan lokasi perkuatan lereng harus dibatasi pada bagian-bagian sungai yang mudah tergerus saja .
f. Panjang perkuatn lereng ditetapkan secara empiris yang didasarkan atas karakteristik sungai, kondisi setempat, kemiringan sungai dan debit sungai.
g. Tinggi perkuatan lereng bias any a disamakan dengan elevasi permukaan banjir rencana.
4. Pemilihan tipe perkuatan lereng.
Pemilihan tipe perkuatan lereng yang cocok untuk suatu sungai haruslah dipilih dari beberapa tipe yang ada dengan memperbandingkan satu dengan lainnya serta dengan memperhatikan sulit tidaknya keadaan
lapangan ditinjau dari pelaksanaan.
Tipe perkuatan lereng yagn pernah dibangun dengan hasil yang cukup baik adalah :
a. Tipe pondasi rendah
b. Tipe pondasi tinggi
c. Tipe turap pancang baja
d. Tipe turap papan
e. Tipe turap beton
f. Tipe turap pancang beton
5. Perkuatan lereng darurat atau sementara

Untuk melindungi lereng tanggul yang kritis akibat gogosan atau lereng tanggul yang baru setelah dilakukan penutupan bobolan, biasanya perkuatan lerengnya dilakukan dengan menggunakan bronjong kawat silinder, hamparan bronjong kawat, atau bobolan ditutup dengan tanah.

6. Pelindung lereng

Beberapa jenis pelindung lereng diantaranya adalah gebalan rumput, hamparan nyaman berisi batu, bronjong kawat silinder, blok beton, pasangan batu, pasangan blok beton, perkerasan dengan beton. Pemilihan type pelindung lereng berdasarkan kekuatan konstruksi, kondisi sungai (kecepatan dan besarnya ombak), kemiringan lereng, umur bangunan yang direncanakan dan keadaan iklim yang dikaitkan dengan
jangka waktu pelaksanaan. Tipe pelindung lereng biasanya dibuat dengan permukaan rata atau bertangga.

1.4. TANGGUL
1. Perencanaan tanggul (levee planning)
Tanggul disepanjang sungai adalah salah satu bangunan yang paling utama dan paling penting dalam usaha melindungi kehidupan dan harta benda masyarakat terhadap genangan-genangan yang disebabkan oleh banjir dan badai (gelombang pasang). Tanggul dibangun terutama dengan konstruksi urugan tanah, karena tanggul merupakan bangunan menerus yang sangat panjang serta membutuhkan bahan urugan yang
volumenya sangat besar karena tanah merupakan bahan urugan yang volumenya sangat besar karena tanah merupakan bahan yang sangat mudah penggarapannya dan setelah menjadi tanggul sangat mudah pula menyesuaikan diri dengan lapisan tanah pondasi yang mendukungnya serta mudah pula menyesuaikan dengan kemungkinan penurunan yang tidak rata, sehingga perbaikan yang disebabkan oleh penurunan tersebut mudah dikerjakan.
2. Jenis-jenis tanggul.
Berdasarkan fungsi dan dimensi tempat serta bahan yang dipakai
dan kondisi topografi setempat tanggul dapat dibedakan sebagai
berikut :
a. Tanggul utama
b. Tanggul skunder
c. Tanggul terbuka
d. Tanggul pemisah
e. Tanggul melingkar
f. Tanggul sirip
g. Tanggul pengarah
h. Tanggul keliling dan tanggul sekat
i. Penyadap banjir
j. Tanggul tepi dananu dan tanggul pasang
k. Tanggul khusus
1. Tanggul belakang

3. Trase tempat kedudukan tanggul.
Garis bahu depan suatu tanggul disebut pula sebagai trase tempat kedudukan tanggul atau disingkat dengan istilah trase tanggul. Halhal yang perlu diperhatikan dalam penetapan trase tanggul adalah :
a. Pemilihan lokasi tanggul
Dipilih pada lokasi yang kedap air
b. Arah trase tanggul
Dalam menentukan arah trase tanggul agar diperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
1. Dipilih suatu penampang basah sungai yang paling efektif dengan kapasitas pengaliran maksimum
2. Agar trase searah dengan arah arus sungai dan dihindarkan tejadinya belokan yang tajam.

3. Diusahakan agar arah trase tanggul kiri dan tanggul kanan separalel mungkin dengan alur sungai.

4. Pada sungai-sungai yang arusnya tidak besar, diusahakan agar kurva alirannya stabil.
c. Jarak antara trase tanggul sungai
1. Jarak antara trase tanggul dianggap sebagaijarak antara kedua tanggul yang membujur dikanan kiri sungai yang ditetapkan berdasarkan debit banjir rencana untuk sungai tersebut kemiringannya, tinggi muka air pada sungai dan jika mungkin tambahan persediaan lebar seperlunya.

2. Guna menentukan debit sungai umumnya dipergunakan formula
chezy, sebagai berikut :
Q = C x B x H^1.5 x 1^0.5
dimana :
Q : Debit (m3/dt)
C : Koefisien Chezy
B : Lebar sungai (m)
H : Kedalaman rata-rata (m)
I : Kemiringan permukaan sungai
Dalam perhitungan luas penampang lintang sungai dengan menggunkan formula tersebut, untuk beberapa arus sungai kadang-kadang sangat sukar merubah nilai I dan C. Jadi lebar sungai dan kedalaman air sungai disesuaikan dengan memperhatikan kecepatan aliran air sungai yang diperkenankan (sekitar 1.5-2.0 m3/dt), sehingga dapat dihindari.
3. Pada sungai-sungaiyang sangat lebar dan dalam alirannya memperlihatkan adanya taurbulensi, maka lebarnya dapat dibatasi atau dikurangi dengan pembuatan tanggul-tanggul sirip pada bantarannya.
4. Andaikan pada suatu ruas sungai tidak dapat dihindarkan terjadinya pukulan air, lebar sungai pada ruas ini perlu ditambah secukupnya.
5. Sebagai suatu persyaratan, tanggul di kedua belah sungai sedapat mungkin dibuat sejajar. Walaupun demikian, apabila terdapat ruas yang sempit karena karena suatu kondisi yang tidak terrhindarkan, maka dihilir ruas tersebut supaya sedapat mungkin ksegera diperlebar menyesuaikan dengan lebar normalnya.
d. Trase tanggul pada muara-muara sungai.
Dalam menetapkanjarak antara tanggul-tanggul pada muara lebih dari dua sungai yang berdekatan, perlu ditetapakan sedemikian rupa, supaya aliran sungai-sungai tersebut tidak saling mengganggu.

4. Bentuk penampang lintang tanggul dan bahan tanah tanggul.
a. Bagian tanggul
Bentuk standar dan nama bagian tanggul adalah lereng depan, lereng belakang, tinggi jagaan, bahu depan, bahu belakang,  mercu, berm depan, berm belakang, kaki depan, kaki belakang, dataran dan dasar tanggul.

b. Tinggi jagaan
Tinggi jagaan merupakan tambahan tinggi pada tanggul untuk menampung loncatan air dari permukaan air sungai yang sedang mengalir, yang diakibatkan oleh adanya ombak gelombang dan loncatan hidrolis pada saat banjir. Tinggi jagaan berkisar antara 0,6 – 2,0 m.

Tinggi jagaan standard tanggul

Debit banjir rencana (cm2/dt) : angka untuk ditambahkan di atas elevasi muka air banjir rencana (m)

< 200 : 0,6 ; 200-500 : 0,8 ; 500-2000:1,0 ; 2000-5000 : 1,2 ; 5000-10000 : 1,5 ; >1000 ; 2,0

c. Lebar mercu tanggul
Pada daerah yang padat, dimana perolehan areal tanah untuk tempat kedudukan tanggul sangat sukar daan mahal, pembangunan tanggul dengan mereu yang tidak lebar dan dengan lerengnya yang agak curam cukup memadai. Akan tetapi mereu yang cukup lebar (3-7 m) , biasanya diperlukan untuk jalan inspeksi lebar
standar mercu tanggu.

Lebar standar mercu tanggul

Debit banjir rencana (m3/dt) : Lebar mercu (m)

< 500 : 3 , >500 tetapi <2000 : 4 , >2000 tetapi <5000 : 5 , >5000 tetapi <10000 : 6 , >10000 : 7

d. Kemiringan lereng tanggul
Penentuan kemiringan lereng tanggul merupakan tahapan yang paling penting dalam perencanaan tanggul dan sangat erat kaitannya dengan infiltrasi air dalam tubuh tanggul tersebut. Dalam keadaan biasa tanpa perkuatan lereng tanggul direneanakan dengan kemiringan 1 : 2 atau lebih kecil. Bahan yang sangat cocok untuk pembangunan tanggul adalah tanah dengan karakteristik sebagai berikut :

1. Dalam keadaan jenuh air mampu bertahan terhadap gejala gelincir dan longsor.                                        2. Pada waktu banjir yang lama tidak rembes atau bocor.                                                                                 3. Penggalian, transportasi dan pemadatannya mudah.                                                                                    4. Tidak terjadi retak-retak yang membayakan kesetabilan tubuh tanggul.
5 Bebas dari bahan-bahan organis. seperti akar-akaran, pohonpohonan dan rumput-rumputan.
Akan tetapi amatlah sukar untuk memperoleh bahan tanah dengan kualitas yang baik untuk tanggul yang sangat panjang dari lokasi yang berlainan yang berdekatan dengan trass tanggul yang akan dibangun. Sedangkan pengambilannya dari lokasi yang sama, tetapi jaraknya jauh akan meningkatkan biaya transportasinya. Jadi tidaklah dapat dihindarkan pengambilan bahan tanah dari lokasi di sekitar tanggul. Walaupun dengan resiko kualitasnya kurang memenuhi persyaratan. Dalam keadaan untuk urugan bagian dalam tubuh tanggul, sedangkan untuk bagian luamya dipergunakan untuk urugan bagian dalam tubuhnya.
5. Stabilitas tanggul
a. Berbagai penyebab kerusakan tubuh tanggul
Pada umumnya penyebab kerusakan tubuh tanggul adalah sebagai berikut :
1). Terbentuknya bidang gelincir yang menerus akibat kemiringan lereng tanggul terlalu curam.
2). Terjadinya keruntuhan lereng tanggul akibat kejenuhan air dalam tubuh tanggul yang disebabkan oleh rembesan air pada saat banjir atau pada saat terjadinya hujan yang terus menerus.
3). Terjadinya kebocoran-kebocoran pada pondasi tanggul.
4). Tergerusnya lereng depan tanggul oleh arus sungai.
5). Terjadinya limpasan pada mercu tanggul.
6) Terjadinya pergeseran pondasi akibat gempa.
b. Stabilitas lereng tanggul
Kekuatan geser dan kohesi bekerja diantara partikel-partikel, karena adanya gaya gravitasi. Makastabilitas lereng tanggul dapat dihitung berdasarkan konsep bidang gelincir lingkaran. Untuk memperoleh tegangan geser S dapat dihitung dengan :
S = t tan O + C

Dimana :

t =kekuatan kompresi vertikal
O = kekuatan geser dalam
C = kohesi

Dalarn kondisi tersebut besamya sudut geser dalarn terletak antara bidang lereng tanah yang stabil alamiah. Niali 0 suatu bahan senatiasa berubah-ubah tergantung besamya kandungan air, jadi tidaklah sarna dengan sudut lereng alarniahnya,jika nilai C hanipir mendekati angka nol seperti halnya pada pasar, maka rumus
tegangan geser dalam berubah menjadi :
S = t tan O

Selanjutnya untuk lempungan atau tanah berlumpur dengan nilai 0 mendekati angka nol, maka S dapat diperoleh dengan rumus : S = C

c. Garis rembesan

jika pada saat terjadinya banjir, permukaan air pada bantaran naik cukup tinggi, maka akan terjadi rembesan air ke dalam tubuh tanggul pada bagian yang terletak dibawah kurva AB, dan kemiringan dari kurva AB
diatas disebut gradien hidrolis. Jika garis rembesan AB memotong lereng belakang tanggul dan air rembesan muncul pada permukaan lereng tersebut , maka akan dapat terjadi kebocoran tanggul pada bagian permukaan lereng yang terletak disebelah bawah titik B dan dapat membahayakan stabilitas tubuh tanggul pada lokasi tersebut. Oleh sebab itu dalam merencanakan penampang lintang tubuh tanggul pada lokasi harus diperhatikan agar dapat menutup seluruh panjang garis rembesan.

d. Pengecekan stabilitas tanggul secara menyeluruh
Sebagaimana diuraikan dimuka, bahwa kerusakan tanggul akibat longsor dapat terjadi pada lereng belakang tanggul, apabila garis rembesan memotong lereng belakang dan air rembesan muncul pada permukaan lereng tersebut. Permukaan lereng tanggul dapat pula longsor karena tertimpa hujan deras secarqa terus menerus dan berlangsung lama.Selanjutnya keadaan akan lebih sulit dan kompleks, apabila tubuh tanggul sedang dalam keadaan jenuh dan bersamaan dengan itu terjadi banjir yang menyebabkan tejadinya naiknya permukaan air sungai. Dalam keadaan demikian longsor merupakan permulaan proses sewaktu- waktu dapat terjadi. Pada hakekatnya terjadinya longsor merupakan permulaan proses kerusakan tubuh tanggul yang selanjutnya dapat menyebabkan bobolnya tanggul tersebut. Mengingat hal-hal diatas, maka pemadatan pada seluruh bagian tubuh tanggul secara baik dan sempurna, adalah salah satu persyaratan yang paling utama dalam pembangunan tanggul guna meningkatkan stabilitasnya dan hams pula diingat pada pembuatan tanggultanggul dari bahan pasiran yang koefisien filtrasinya cukup tinggi, agar sebelumnya dilakukan pengujian yang seksama pada stabilitas tubuh tanggul terhadap pengaruh air rembesan. Selanjutnya pengujian yang seksama diperlukan pula pada tanggul-tanggul yang akan dibangun diatas lapisan pondasi yang lolos air. Sebagai tambahan pengujian yang lebih seksama hams dilakukan terhadap kemungkinan kebocoran pada tanggul yang sudah dibangun ditas pondasi yang lulus air dan terhadap kemungkinan terjadinya kerusakan-kerusakan akibat longsor pada tanggul-tanggul yang di bangun diatas pondasi yang lunak serta diatas pondasi lapisan tanah kohesif yang tebal.

1.5. KRIB
1. Umum
Krib adalah bangunan yang dibuat mulai dari tebing sungai kearah tengah guna mengatur ams sungai dan tujuan utamanya adalah :
a. mengatur arah ams sungai,
b. mengurangi kecepatan ams sungai sepanjang tebing sungai,

c. mempercepat sedimentasi,
d. menjamin keamanan tanggul atau tebing terhadap gerusan,
e. mempertahankan lebar dan kedalaman air pada alur sungai,
f. mengonsentrasikan arus sungai dim memudahkan penyadapan .

Krib adalah bangunan air yang secaa aktif mengatur arah arus sungai dan mempunyai efek positif yang besar jika dibangun secara benar. Sebaliknya , apabila krib dibangun secara kurang semestinya, maka
tebing dise.berangnyadan bagian sungai sebelah hilir akan mengalami kerusakan. Karenanya, haruslah dilakukan penelaahan dan penelitian yang sangat seksama sebelum penetapan type suatu krib yang akan
dibangun.
2. Klasifikasi krib
a. krib permaebel
Pada tipe permaebel, air dapat mengalir melalui krib. Bangunan ini akan melindungi tebing terhadap gerusan arus sungai dengan cara meredam energi yang terkandung dalam aliran sepanjang tebing sungai dan bersamaan dengan itu mengendapkan sendimen yang terkandung dalam aliran. Krib permaebel terbagi dalam beberapa jenis, antara lain jenis tiang pancang, rangka piramid dan jenis rangka kotak.
b. Krib impermeabel
Krib dengan konstruksi tipe impermeabel disebut juga krib padat sebab air sungai tidak dapat mengalir melalui tubuh krib. Bangunan ini digunakan untuk membelokan arah arus sungai dan karenanya sering terjadi gerusan yang cukup dalam didepan ujung krib atau bagian sungai disebelah hilirnya. Untuk mencegah gerusan, biasanya pada lokasi yang diperkirakan akan terjadi gerusan, dipertimbangkan penempatan pelindung dengan konstruksi flesibel seperti matras atau hamparan pelindung batu sebagai pelengkap dari krib padat. Dari segi konstruksi, terdapat beberapa jenis krib, impermeabel misalnya bronjong kawat, matras dan pasangan batu.
c. Krib semi permeabel
Krib semi permeabel ini berfungsi ganda yaitu sebagai krib permeabel dan krib padat. Biasanya bagian yang padat terletak disebelah bawah dan berfungsi pula sebagai pondasi. Sedang bagian atasnya merupakan konstruksi yang permeabel disesuaikan dengan fungsi dan kondisi setempat.

d. Krib silang dan memanjang
Krib yang formasinya tegak lurus atau hampir tegak lurus sungai dapat merintangi arus dan dinarnakan krib melintang. Sedangkan krib yang formasinya harnpir sejajar arab arus sungai disebut krib memanjang.

3. Perencanaan krib
Dalam mempersiapkan perencanaan krib, diperlukan survei mengenai topografi, debit dan kecepatan aliran sungai dan transportasi sedimen yang ada disungai. Tipe dan cara pembuatan krib ditetapkan secara
empiris dengan memperhatikan pengalaman masa lalu dalam pembuatan krib yang harnpir sejenis. Secara umum hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan krib adalab sebagai berikut ini :
a. Karena cara pembuatan krib sangat tergantung pada resim sungai, perlu diperoleh data mengenai pengalaman pembuatan krib pada sungai yang sama atau harnpir sarna, kemudahan pelaksanaanya dan besarnya pembiyayaan.

b. Untuk mengurangi turbulensi aliran pada sungai yang terlalu lebar, maka permukaan air sungai normal harus dinaikan dengan krib yang panjang, dengan memperhatikan biaya pelaksanaan dan pemeliharaannya.

c. Jika krib yang akan dibangun dimaksud pula untuk melindungi tebing sungai terhadap pukulan air, panjang krib harus dipehitungkan pula terhadap timbulnya pukulan air pada tebing sungai di seberangnya.
d. Krib tidak berfungsi baik pada sungai kecil dan sempit alurnya.
e. Apabila pembuatan krib dimaksudkan untuk menaikan permukaan normal air sungai, perlu dipertimbangkan kapasitasnya disaat terjadinya debit yang lebih besar atau debit banjir.
Formasi krib
Terdapat 3 maeam formasi krib yaitu tegak lurus, condong kearah hulu dan eondong kearah hilir.
Penetapan tinggi krib
Umumnya akan’lebih menguntungkan apabila evaluasi mercu krib dapat dibuat serendah mungkin ditinjau dari stabilitas bangunan terhadap gaya yang mempengaruhinya; sebaiknya elevasi mereu dibuat 0,50-1,00 meter diatas elevasi rata-rata permukaan air rendah. Dari hasil pengamatan terhadap tinggi berbagai jenis krib yang telah dibangun dan berfungsi dengan baik, diperoleh angka perbandingan antara tinggi krib dan kedalaman air banjir (hg/h) sebesar 0,20 – 0,30.

Arah aliran dan sudut sumbu krib

Lokasi pembuatan krib di sungai : Arah aliran & sudut sumb krip 0

Bagian lurus : 10° – 15°
Belokan luar : 5° – 15°
Belokan dalam : 0° – 10

Panjang dan jarak antara
Ditetapkan secara empiris yang didasarkan pada pengamatan data sungai yang bersangakutan antara lain situasi sungai, lebar sungai, kemiringan sungai, debit banjir, kedalaman air, debit normal, transportasi sedimen dan kondisi sekeliling sungai.
Krib memanjang
Adalah krib yang ditempatkan hampir sejajardengan arah arus sungai dan biasanya digunakan untuk melindungi tebing alur sungai dan mengatur arah arus sungai agar alur sungai tidak mudah berpindah-pindah.
4. Konstruksi krib
a. Krib tiang pancang : adalah contoh krib permeabel dan dapat digunakan baik untuk krib memanjang maupun krib melintang. Konstruksinya sangat sederhana dan dapat meningkatkan proses pengendapan serta sangat cocok untuk bagian sungai yang tidak deras arusnya.
b. Krib rangka : adalah krib yang cocok untuk sungai-sungai yang dasarnya terdiri dari lapisan batuatau krikil yang sulit dipancang dan krib rangka ini mempunyai kemampuan bertahan yang lebih besar terhadap arus sungai dibandingkan dengan krib tiang pancang.

c Krib blok beton : krib blok beton mempunyai kekuatan yang baik dan awet serta sangat tleksibel dan umumnya dibangun pada bagian sungai yang arusnya deras. Bentuk dan denah krib serta berat masing-masing blok beton sangat bervariasi tergantung dari kondisi setempat antara lain dimensi serta kemiringan sungai dan penetapannya didasarkan pada contoh-contoh yang sudah ada atau pengalaman-pengalaman pada krib-krib sejenis yang pernah dibangun.

5. Pemilihan tipe krib
Tipe krib yang eoeok untuk suatu lokasi haruslah ditentukan berdasarkan resim sungai pada lokasi tersebut dengan memperhatikan tujuan pembuatannya, tingkat kesulitan dan jangka waktu pelaksapannya. Jadi hal-hal yang perlu diperhatikan dan dipelajari adalah bentuk denah, kemiringan memanjang dan bentuk penampung lintang krib, elevasi muka air, debit, kecepatan arus baban dasar dan arab pergeseran pada sungai. Selanjutnya tipe krib ditetapkan berdasarkan fungsi hidrolika dari krib, pengalaman-pengalaman yang pemah ada dan contoh-contoh bangunan krib-krib yang dibuat di waktu-waktu yang
lalu. Dalam proses penentuan tipe kirb diperlukan perhatian khusus pada hal-hal sebagai berikut :
1. Krib permeabel yang rendab dengan konsolidasi pondasi biasanya cukup memadai untuk melindungi tebing sungai.
2. Krib tidak cocok untuk sungai-sungai yang sempit alumya atau untuk sungai-sungai kecil.
3. Krib permeabel bercelah besar, seperti krib tiang pancang.

1.6 CHECK DAM
Check dam adalah bangunan yang berfungsi menampung dan atau menahan sedimen dalam jangka waktu sementara atau tetap, dan harus tetap melewatkan aliran air baik melalui mercu maupun tubuh bangunan.
Check dam juga digunakan untuk mengatur kemiringan dasar saluran drainase sehingga mencegah terjadinya penggerusan dasar yang membahayakan stabilitas saluran drainase.
1. Debit Rencana
Debit rencana dihitung dengan rumus :
Q = 1/3,6 x C x I x A
dimana :
Q = debit rencana (m3/dt)
C = koefisien pengaliran
I = intitensitas luas (mm/jam)
A = luas daerah sungai (km2)

2. Dimensi Hidrolis
a. Panjang Mercu
Panjang mercu pelimpahan dan sediman diperhitungkan berdasarkan pada :
1) Kemampuan melewatkan debit banjir desain dengan tinggi jagaan cukup, sehingga setiap bagian bangunan aman terhadap kerusakan. Besarnya debit rencana dan tinggi jagaan tersebut harus diambil sesuai dengan standart yang berlaku yaitu :
-Semua bangunan harns direncanakan aman terhadap debit dengan besaran tertentu; dan biasanya dinyatakan dengan kala ulangnya.
-Bila standart di atas tidak emmuat ketentuan untu sesuatu bangunan yang hendak direncanakan, maka penentuan kala ulang untuk itu harus dipertimbangkan segi keamanan, resiko dan konsekuwensinya, dan ekonomi.

2) Batasan tinggi muka air genangan pada debit banjir rencana mengingat pengarnh terhadap : keamanan lingkungan, dan dimensi bagian bangunan lain seperti :
-Tanggul banjir.
-Peredam energi.
b. Tinggi Mercu
Tinggi mercu pelimpahan bangunan penahan sedimen harus diperhitungkan dengan mempertimbangkan :
I) Kebutuhan tampungan sedimen di hulu bangunan dengan memperhatikan jumlah bangunan : tunggal atau serial.
2) Tinggi muka air genangan yang akan terjadi pada debit rencana.
e. Bentuk Mercu
Bentuk mercu pelimpahan bangunan ini pada umumnya direncakana berbentuk ambang lebar dengan memperhatikan benturan dan abrasi oleh muatan yang tersangkut aliran.
d. Tubuh bangunan pelimpah
Dimensi tubuh bagian bangunan ini harns ditentukan dengan
memperhatikan faktor-faktor :
I) Bahaya benturan dan abrasi oleh muatan dan atau benda padat lainnya.
2) Stabilitas struktural dan rembesan.
e. Peredam energi
I) Dan penahan sedimen tidak dilengkapi dengan bangunan peredam energi mengingat benturan dan abrasi oleh muatan dan benda padat lainnya.
2) Bila bangunan tidak berdiri di atas dasar yang kuat, maka perlu dipertimbangkan pembuatan bangunan peredam energi dengan tipe lantai yang harns tahan aus dan tanah benturan, atau tipe bertangga.
f. Tembok pangkal dan tembok sayap
1) Untuk tubuh dam sedimen penahan yang monolit maka bangunan harns dimasukkan ke dalam tebing sungai yang stabil.
2) Untuk melindungi tebing di udik dan di hilir bangunan oleh faktor-faktorgerusan loka!, agradasi, dan sifat material tebing.

2. Perhitungan hidrolis
a. Rumus Pengaliran
Q = m (Jg.Ac^3)^0.5/T

dimana :
Q = debit rencana (m3/det)
m = koef. pengaliran = 0,8
Ac= penampung hidrolis
T = lebar permukaan = (b + mh)
b = lebar dasar penampung hidrolis
hc = tinggi kritis.
b. Dalamnya gerusan (X)
Dalam gerusan akibat terjun lurus harns dihitung berdasarkan rumus : x = 1/4 (H2 XH)^ 2/3
dimana
x = dalamnya gerusan dari dasar saluran hilir
H2= perbedaan tinggi energi di hulu dan di hilir
H = tinggi energi di atas ambang
3. Perhitungan stabilitas.
a. Perhitungan kekuatan konstruksi
-Pembebanan
Dihitung sebagai tembok penahan tanah.
-Kekuatan konstruksi
Harus memenuhi peraturan yang berlaku untuk bahan yang dipakai.
b. Perhitungan Stabilitas
Tembok penahan tanah harns stabil terhadap guling dan gaya geser f > 1.2 – 1.5, dan juga harns stabil terhadap daya dukung tanah.

1.7 AMBANG (GROUND SILL)
Bangunan ini direncanakan berupa ambang atau lantai dan berfungsi untuk mengendalikan ketinggian dan kemiringan dasar sungai, agar dapat mengurangi atau menghentikan degradasi sungai. Bangunan ini juga dibangun untuk menjaga agar dasar sungai tidak turun terlalu berlebihan.

1. Tipe dan bentuk ambang
Ada dua buah tipe umum ambang
a. Ambang datar (bed gindle work)
Bangunan ini hampir tidak mempunyai terjunan dan elevasi
mercunya hampir sarna dengan permukaan dasar sungai, dan
berfungsi menjaga agar permukaan dasar sungai tidak turnn lagi.
b. Ambang pelimpah (head work)
Bangunan ini mempunyai terjunan, hingga elevasi permukaan
dasar sungai di sebelah hilimya dan tujuannya adalah untuk lebih
melandaikan kemiringan dasar sungai.
2. Perencanaan ambang
a. Tinggi ambang.
1) Untuk sungai sempit. .
L = (1/n – 1/m)h =(1.5 – 2.0) 1/h
2) Untuk sungai lebar.
L = (1.5 – 2.0) b
dimana :
L = jarak antara ambang (m)
h = tinggi ambang (m)
n = kemiringan dasar sungai
m = tingkatan perencanaan dasar sungai
b =lebar sungai (m)
b. Konstruksi ambang
Konstruksi ambang terdiri dari tubuh dan lantai lindung yang dibangun secara monolit dari bahan beton yang disebut pula bangunan utama  dan biasanya diadakan hamparan pelindung (konsolidasi) dasar sungai di sebelah hulu dan sebelah hilir bangunan utama tersebut.

c. Lantai lindung dan konsolidasi dasar sungai pada ambang
Lantai lindung ambang biasanya dikombinasikan dengan konsolidasi dasar sungai guna melindungi tubuh ambang terhadap gerusan atau gejala piping. Panjang lantai lindung dan konsolidasi dasar sungai hanya dapat ditetapkan berdasarkan model hidrolika atau diperoleh secara empiris untuk ambang yang kecil-kecil.
Dan panjang lantai pelindung atau konsolidasi dasar sungai yang diperlukan sebagai peredam energi secara kasar dapat dilihat pada rumus Safranes. Andaikan kedalaman air sungai yang deras arusnya pada tepi
hulu lantai lindung adalah h1

h1^3 – (H – h1) h1^2+ q^2/2g = 0

h2 = (h1^2/4 + 2q^2/4 .h1/4)^0,5

dimana :
h = Tinggi air di atas mercu ambang (m)
D = Tinggi ambang (m)
H = Total tinggi tekanan =D + h (m)
hf = Kehilangan tinggi tekanan akibat geseran =C*(D/h)*H
q = Debit persatuan panjang (m3/dt/m’)
h2 = Kedalaman air di tepi hilir lantai lindung (m)
C = 0.02
Jika panjang yang diperlukan untuk peredam energi adalah L, maka perkiraan L – 4,5h2. Lantai lindung dibuat horizontal dan biasanya monolit dengan tubuh ambang. Sedang konsolidasi dasar sungai diadakan disebelah hilir lantai lindung dnegan konstruksi yang fleksibel dan dengan kekasaran yang tinggi pada permukaan bagian hulunya dan berangsur berkurang ke arah hilirnya.
d. Konstruksi kontak tubuh ambang dengan tebing sungai.
Konstruksi kontak tubuh ambang dnegan tebing sungai merupakan bagian pekerjaan yang sangat penting, demikian pula kontak antara tebing sungai dengan bagian-bagian ambang lainnya, seperti lantai lindung dan konsolidasi dasar sungai. Seperti diketahui bahwa air yang melimpah dari atas mercu ambang
menyebabkan alirannya bersifat terbuka dan mengakibatkan gerusan, baik pada alur sungai maupn pada bantara di kanan kirinya serta kedua tebingnya. Guna mencegah gerusan pada tebing sungai atau tanggul pada kedua ujung tubuh ambang, maka kedua ujung ambang tersebut diperbesar seperlunya . Selain itu diadakan pIa lapis pelindung (plesengan) pada kedua ujung ambang, hingga mencakup panjang lantai
lindung yang dibuat dari konstruksi beton bertulang.

Pada ambang yang tinggi tekanannya keeil tidak diperIukan perkuatan-perkuatan seperti uraian di atas. Tetapi hal tersebut pun diperIukan untuk melindungi bantaran dan memperkuat kaki tanggul dengan sekat pancang atau dengan konstruksi lain yang sesuai dengan kondisi setempat serta menggunakan bahan-bahan yang dpaat diperoleh setempat. Pada sungai-sungai yang jarak antara kedua tanggulnya lebih
besar dari 50 m, perkuatan lereng tanggul biasanya tidak diperlukan, tetapi kaki-kaki tanggul haruslah diperkuat dengan melindungi permukaan bantara di sebelah hilir ambang.

MemperIihatkan perkuatan sayap-sayap pengarah aliran pada ambang pelimpah. Perkuatan tersebut harus ditempatkan lebih ke belakang dan dibuat dari .melindungi dasar sungai terhadap hempasan langsung dari air yang melintas ambang tersebut.
e. Sayap pengarah arus.
Apabila ambang dibangun pada sungai, biasanya aliran turbulen terjadi di sebalah hilir ambang yang disebabkan loneatan hidrolis, mengakibatkan mudah terjadinya gerusan setempat. Dalam keadaan demikian perIu adanya sayap pengarah arus, baik disebelah hulu maupun sebelah hilir ambang dan bersamaan
dengan itu dasar bantaran serta dasar alur sungai diperkuat dengan hamparan pelindung yang konstruksinya tleksibel.
f. Pelindung bantaran
Apabila pada sungai-sungai dengan penampung ganda, tetapi ambang harus dibangun pada alur sungainya saja, maka harus diadakan perlindungan untuk dasar bantaran yang mencakup sampai dengan hulu dan ujung hilir sayap pengarah arus. Untuk ambang pada sungai yang bantarannya sangat lebar, supaya
biayanya lebih murah, perkuatan diadakan di sekitar kai tanggul. Perkuatan bantaran diadakan dengan konstruksi bronjong guling, hamparan blok beton, dan lain-lain.

3. HaI-haI yang perIu diperhatikan untuk keamanan ambang.
a. Gejala piping
Apabila ambang di bangun di atas lapisan tanah permeabel, air rembesan mengalir melalui lapisan tanah pondasi. Hal tersebut disebabkan terjadinya tinggi tekanan oleh perbedaan elevasi muka air sungai di sebelah hulu dan di sebelah hilir ambang. Apabila kecepatan alir air rembesan tersebut cukup besar, hingga
melampaui kecepatankritis untuk lapisan tanah pondasi tersebut, maka akan terjadi piping, yaitu butiran-butiran halus yang membentuk lapisan tanah pondasi mulai bergerak dan hanyut bersama aliran air rembesan dan terjadilah rongga-rongga pada lapisan yang semakin lama menjadi semakin bertambah besar
yang menyebabkan ambang turnn atau runtuh. Tinggi keamanan terhadap piping dapat diperoleh dengan nilai banding rayapan (creep ratio).
jika h1 > h2
bangunan aman terhadap piping, bila C = L/H > angka-angka
dan 12> 2h1.
Maka L = l1 + 2h1 + l2 + 2h2 + l3
Jika hi > h2 dan l2 < hi + h2,
Maka L =. I) + h1 + l2+ h2 + l3
C = L/H
dimana :
L = panjang lintasan aliran air rembesan.
Harga kritis C = L/H

Kelas Batas : C=L/H

Pasur sangat halus : 18
Pasir halus : 15
Pasir kasar : 12
Kerikil dan pasir : 9
Kerikil kasar termasuk batu pecah : 4 – 6

Lane mengusulkan untuk tanah pondasi yang mengandung endapan datar, menggunakan sepertiga lintasan rembesan mendatar untuk lintasan vertikal dan koefisien rembesan datar lebih besar dari rembesan vertikal.
LW = 1/3 (l1+ l2+ l3)+ 2 (HI + h2)
CW = LW/H
Apabila suatu bobot diberikan untuk angkat CW disebut “nilai banding rayapan seimbang” dan keamanan terhadap bahaya piping dapat dijamin

Kelas : Nilai banding rayapan seimbang
Pasir sangat halus : 8,5
Pasir : 7,0
Pasir sedang : 6,0
Pasir kasar : 5,0

Kerikil halus :4,0
Kerikil sedang : 3,5
Kerikil kasar termasuk batu pecah : 3,0
Batu pecah dengan sedikit kerikil : 2,5

b. Pasir apung
Gejala pasir apung (Quick sand) dapat terjadi apabila dalam lapisan pasir terdapat aliran air rembesan dengan lintasan vertikal ke arah atas, sehingga berat efektif butiran pasir dapat diimbangi dengan tekanan angkat yang terdapat pada aliran air rembesan dan hilangnya daya kontak antara butiran pasir tersebut, hingga butiran pasir seolah-olah melayang di dalam aliran tersebut. Gradien hidrolis kritis (ic) dari air rembesan yang menyebabkan terjadinya pasir apung dapat diperoleh dengan rumus :
ic = (Gs-1)/(1+e)
dimana :
ic = gradient hidrolis kritis
Gs = berat jenis butir tanah

e = angka pori , Jika faktor keamanan adalah Fs > 5
c. Kecepatan aliran air rembesan
Kecepatan aliran air rembesan (v) dinyatakan derigan rumus berikut :

v = kH/L

dimana :
k = koefisien permeabilitas
H = perbedaan elevasi antara muka air di hulu dan di hilir ambang
L = panjang lintasan
Walaupun angka v sangat bervariasi tergantung dari karakteristik lapisan tanah pondasi ambang, tetapi keamanan ambang dapat dijamin terhadap gejala-gejala piping dan pasir apung, jika angka
v lebih keeil dari 1 mm/detik.

d. Tekanan angkat
Tekanan angkat (up lift) yang disebabkan oleh perbedaan elevasi
muka air di sebelah hulu dan di sebelah hilir ambang akan bekerja
pada alas ambang tersebut. Akan tetapi untuk ambang yang
rendah, perbedaan elevasi muka air di hulu dan di hilir ambang
tersebut sangat kecil dan dapat diabaikan.
e. Stabilitas dinamik tubuh ambang
Tubuh ambang haruslah senantiasa dalam keadaan aman terhadap
guling (over turning) dan gelincir (sliding).
Gaya-gaya yang bekerja pada ambang adalah :
1) Tekanan air
2) Tekanan tahan
3) Tekanan angkat
4) Kekuatan gempa

Langkah-Langkah Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan (Konstruksi)

Tahap Pelaksanaan kegiatan pembangunan sarana dan prasarana pada dasarnya merupakan pelaksanaan kegiatan tahapan pemanfaatan dana dalam Siklus kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan.
Kegiatan dalam tahapan ini pada garis besarnya dibagi atas 2 tahapan yaitu (1). tahap persiapan pelaksanaan dan (2). tahap pelaksanaan konstruksi itu sendiri. Adapun mekanisme kegiatan pada tahap pelaksanaan sebagaimana terlihat pada gambar 1. diagram alir pelaksanaan kegiatan pembangunan prasarana.
Masing-masing kegiatan pada diagram tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.
3.1. TAHAP PERSIAPAN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN (KONSTRUKSI)
1. Penyiapan Organisasi Pengelola Pemanfaatan & Pemeliharaan
Penyiapan organisasi Pengelola Pemanfaatan & pemeliharaan prasarana disini mencakup kegiatan (1). pembentukan Organisasi Pengelola (Struktur Organisasi) termasuk penentuan orang-orang yang akan bertanggungjawab pada setiap unit kerja, (2). Penyusunan Rencana Kerja Pemanfaatan dan pemeliharaan.
Pada prinsipnya semua prasarana yang telah dibangun harus dipelihara. Namun demikian, mengingat pemanfaat setiap prasarana tidak seluruhnya sama maka pembentukan/pengorganisasian O&P disini hanya diprioritaskan pada prasarana yang berifat umum/publik dan prasarana kelompok. Sedangkan untuk prasarana yang bersifat individu atau pengunaan oleh satu keluarga saja, tidak perlu dibentuk Organisasi Pengelolanya, seperti Jamban Keluarga, Saluran Limbah Rumah Tangga, karena sudah langsung dipelihara oleh masing-masing keluarga pengguna.
Waktu pelaksanaan pembentukan organisasi Pengelola ini dilakukan sejak awal persiapan pelaksanaan kegiatan. Jadi tidak dibentuk setelah pekerjaan fisik selesai. Pendekatan ini diharapkan dapat memunculkan “kesadaran dan rasa tanggungjawab” bagi KSM untuk memelihara sarana dan prasarana yang telah dibangunnya sehingga dapat memberikan manfaat yang berkesinambungan dan lestari. Selain itu juga diharapkan agar Tim Pengelola yang dipilih sejak awal dapat terlibat langsung dalam pelaksanaan pembangunan fisik/konstruksi sehingga setelah pekerjaan selesai masyarakat/tim pengelola sudah siap melaksanakan pemeliharaan.

Penyelenggaraan penyiapan organisasi pemanfaat dan pemeliharaan ini dilakukan oleh KSM melalui forum musyawarah warga pemanfaat (atau forum musyawarah pengambilan keputusan tertinggi KSM). Dan difasilitasi oleh pihak BKM/UPL, Konsultan, Ka Desa/Lurah. Secara lebih detail penjelasan apa dan bagaimana pelaksanaan dari kedua tahapan kegiatan tersebut diatas dapat dilihat pada Buku Tatacara Pemanfaatan & Pemeliharaan Sarana & Prasarana.
2. Penajaman Rencana Kerja
Suatu rencana kerja hendaklah dibuat serinci mungkin agar lebih mudah untuk dipahami dan dilaksanakan. Untuk mencapai hal tersebut tidak cukup mudah, apalagi ada keterbatasan kemampuan teknis personil dalam menyusun perencanaan dan keterbatasan waktu yang tersedia untuk merencankan kegiatan. Untuk mengantisipasi adanya kelemahan-kelemahan dalam perencanaan tersebut maka perlu dilakukan evaluasi atau penajaman kembali rencana kerja sebelum pelaksanaan dimulai.
Penajaman rencana kerja disini merupakan kegiatan yang dilakukan oleh KSM selaku pelaksana kegiatan pembangunan, khususnya oleh Tim Pelaksana yang telah dibentuk, dengan tujuan untuk memperoleh suatu rencana pelaksanaan pembangunan yang lebih rinci dari rencana kerja awal (sudah diajukan dalam proposal/SPPD-L) sehingga lebih siap dijalankan dilapangan. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai langkah antisipasi adanya perubahan-perubahan dalam rencana kerja awal baik yang disebabkan oleh adanya pemahaman baru yang lebih mendalam tentang pelaksanaan kegiatan, perubahan kondisi lapangan dilokasi prasarana, ketersediaan tenaga kerja, bahan, peralatan ataupun kondisi Tim Pelaksana kegiatan sendiri, dan lain-lain yang akan mempengaruhi metode kerja pelaksanaan untuk mencapai target-target yang sudah ditentukan dalam pelaksanaan konstruksi.
Penajaman rencana kerja yang dicakup disini antara lain adalah rencana jadwal pelaksanaan, rencana pengadaan/mobilisasi tenaga kerja/ bahan/alat, rencana tim pelaksana lapangan, rencana Calon Tenaga Kerja yang akan terlibat, termasuk rencana pelatihan administrasi dan teknis konstruksi bagi tim pelaksana lapangan.
Pelaksanaan hal tersebut dilakukan dengan cara mengevaluasi atau memeriksa kembali dari setiap rencana yang telah ada, apakah semua hal-hal yang diuraikan pada rencana semula (SPPD-L/Proposal) masih dapat diterapkan dilapangan. Jika ada rencana yang perlu disesuaikan kembali maka dapat langsung diperbaiki. Hasil perbaikan/perubahan inilah yang selanjutnya akan dipergunakan oleh Tim Pelaksana Lapangan sebagai acuan dalam pelaksanaan, disamping juga sebagai alat monitoring suatu pekerjaan dilapangan nanti. Keseluruhan hasil penajaman rencana ini akan menjadi masukan dalam penyelenggaraan Musyawarah Persiapan Pelaksanaan Konstruksi yang diselenggarakan oleh UPL.

3. Penandatangan Surat Perjanjian Pemanfaatan Dana-Lingkungan (SPPD-L)
SPPD-L merupakan salah satu bentuk kesepakatan perjanjian kerjasama antara BKM dengan KSM dalam rangka pemanfaatan dana BLM untuk pembangunan sarana & prasarana sesuai ketentuan-ketentuan yang dipersyaratkan. Hal-hal yang diatur dalam perjanjian ini antara lain :
• Hal – hal yang terkait dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan yaitu ; Lingkup kegiatan, dokumen perjanjian kerja, jangka waktu pelaksanaan serta nilai perjanjian kerja.
•Hal-hal khusus yang masuk dalam perjanjian seperti hak dan kewajiban para pihak, tahap pencairan dana, penyelesaian pekerjaan dan pemeliharaan hasil pekerjaan.
• Sedangkan hal – hal umum yang perlu diatur dalam perjanjian untuk mengantisipasi berbagai permasalahan yang timbul selama pelaksanaan pekerjaan seperti : sanksi, force majeure dan penyelesaian perselisihan.
Dengan adanya perjanjian tersebut maka semua pihak baik BKM/UPL maupun KSM harus mentaatinya. Secara teknis bagaimana pelaksanaan isi kontrak tersebut agar dijelaskan kembali oleh UPL/BKM kepada KSM pada saat penyelenggaraan MP2K. Adapun contoh bentuk SPPD-L sebagaimana terlampir.
4. Musyawarah Persiapan Pelaksanaan Konstruksi (MP2K)
Musyawarah Persiapan Pelaksanaan Konstruksi disingkat MP2K adalah merupakan Rapat/Forum musyawarah warga dalam rangka Persiapan Pelaksanaan Konstruksi Fisik/Pembangunan Infrastruktur (Pre Construction Meeting/PCM). Jadi Rapat ini diselenggarakan sesegera mungkin setelah ditandatanganinya SPPD-L dan sebelum dimulainya kegiatan pembangunan prasarana/fisik. Penyelenggara kegiatan MP2K ini adalah BKM/UPL (dengan difasilitasi oleh Faskel Teknik) dan dihadiri oleh seluruh pihak KSM/Panitia yang akan melaksanakan kegiatan pembangunan infrastruktur diwilayahnya.
Forum ini ditujukan untuk membahas dan mengetahui sejauh mana persiapan-persiapan yang telah dilakukan KSM/Panitia serta untuk memberikan penjelasan-penjelasan dan penyepakatan hal-hal yang menyangkut teknis maupun administrasi dalam rangka pelaksanaan pembangunan prasarana. Jadi pada forum ini juga pihak KSM dapat melakukan konsultasi terkait hal-hal yang belum dipahami baik teknis maupun administrasi kegiatan.
a)Mengapa MP2K penting untuk diadakan sebelum dilakukannya pelaksanaan konstruksi ?

Pentingnya pengendalian waktu pelaksanaan sesuai dengan jadwal pelaksanaan yang tercantum dalam proposal sebagai bagian dari substansi proses, maupun kualitas teknis konstruksi prasarana guna memenuhi persyaratan LIFETIME prasarana yang pada umumnya belum sepenuhnya dipahami dan mampu dilaksanakan oleh KSM;

-Masyarakat belum terbiasa menyusun rencana Jadwal, organisasi pelaksanaan pekerjaan, calon tenaga kerja dan rencana swadaya masyarakat, seperti yang tertuang dalam Proposal, sehingga belum sepenuhnya dipedomani dilapangan dan cenderung bersifat global bahkan banyak dipahami hanya sebagai persyaratan proposal saja;

-Pentingnya pengelolaan dan Rencana Pengadaan kebutuhan bahan/alat bagi KSM yang sinkron dengan ketersediaan dana dan Jadwal Pelaksanaan;

-Sejak awal KSM harus membentuk Organisasi O&P dan anggotanya seharusnya dapat dilibatkan langsung pada pelaksanaan kegiatan fisik;

b)Apakah hasil yang diharapkan dari pelaksanaan MP2K
Adanya Organisasi & Rencana Kerja O&P yg telah disepakati KSM;
Adanya Rencana & Jadwal Pengadaan Bahan/Alat bagi KSM;
Adanya Kepastian Daftar Calon T. Kerja yang akan dimobilisasi;
Adanya Tim Pelaksana Kegiatan Yang Paham Tugas-tugasnya;
Adanya kesepakatan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan;
Meningkatnya pemahaman KSM untuk melaksanakan SPPD-L/kegiatan secara tepat waktu, tepat kualitas, tepat biaya, tertib administrasi, dan tidak bertentangan dengan ketentuan PNPM;
c)Apa Saja Yang Perlu Dipersiapkan UPL Dalam Pelaksanaan MP2K
(1)Menyiapkan/memastikan : Jadwal/Waktu Pelaksanaan MP2K; Tempat Penyelenggaraan MP2K; Agenda/Susunan Acara & Metode Pembahasan; Daftar Undangan; Form Daftar Hadir Peserta; Draft BA Pelaksanaan;
(2)Membuat dan mendistribusikan Undangan kepada seluruh Peserta;
d)Apa Saja Yang Perlu Dipersiapkan KSM Dalam Pelaksanaan MP2K
1)Berita Acara Pembentukan Organisasi/Susunan Pengurus O&P Prasarana, termasuk rencana kerjanya;
2)Daftar Rencana Pengadaan Bahan/Alat yang siap dilaksanakan;
3)Daftar Calon Tenaga Kerja untuk BLM maupun Swadaya (siap dimobilisasi);
4)Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan lebih rinci;
5)Struktur Organisasi, termasuk susunan Tim Pelaksana Kegiatan;
Untuk selain point 1 diatas, apabila tidak ada perubahan/revisi KSM terbaru, maka dapat membawa salinan dari pada proposal sebelumnya.

e)Siapa Saja Pelaksana Dan Peserta MP2K?

Pelaksana : Penanggungjawab penyelenggaraan kegiatan MP2K adalah UPL/BKM dengan difasilitasi oleh Tim Faskel. Sedangkan Peserta : Peserta adalah semua Tim Pelaksana dari Panitia yang ada dan mengundang BKM, Tomas, Lurah/ Kades dan Tim Konsultan serta undangan lain yang dianggap perlu.

f) Bagaimana mekanisme pelaksanaan MP2K?
Secara rinci langkah-langkah pelaksanaan MP2K sbb :

Tahapan 1 : Penyampaian Undangan MP2K, Pelaksana BKM/UPL, Hasil Surat Und. diterima/ diketahui peserta, Pelaksanaan Semua Tim Pelaksana dari KSM, BKM, UPL, Tomas, Lurah/Kades dan Tim Konsultan serta undangan lain yang dianggap perlu.

Tahapan 2 : Pelaksanaan MP2K,Pelaksana UPL/Faskel,Hasil•Adanya Orgn. O&P (& Renc. Kerjanya), Jadwal Kegiatan, Renc. Pengadaan, Tim Lapangan dan kesiapan Calon Tenaga Kerja, tiap KSM;•Meningkatnya pemahaman KSMuntuk melaksanakan SPPD-L/kegiatan secara tepat waktu, tertib administrasi, memenuhi lifetime dan tidak bertentangan dengan ketentuan PNPM; •Daftar Hadir; •BA Pelaksanaan;

Pelaksanaan•Peserta diminta mengisi Daft. Hadir; •Acara dibuka oleh Ketua BKM/UPL; •Penjelasan Maksud, Tujuan, Hasil Yang Ingin Dicapai serta tatacara forum; •Pembahasan setiap Agenda. Proses pembahasan dipandu oleh UPL dan Faskel. Untuk pembahasan materi O&P (termasuk rencana kerjanya), Jadwal, Organisasi Lapangan, apabila waktu tidak memungkinkan maka dapat meminta cukup 1 KSM untuk mempresentasikan kemudian ditanggapi oleh peserta lain (khususnya faskel & UPL mengarahkan untuk hasil yang benar & optimal). Selanjutnya KSMyang lain dapat langsung melakukan perbaikan/melengkapi sesuai masukan presentasi sebelumnya; •Pembacaan Hasil Kesepakatan; •Penyusunan BA MP2K

5. Pelatihan (Coaching) Teknis dan Administrasi Pelaksanaan Konstruksi
Yaitu bimbingan/coaching yang diberikan terutama oleh Faskel Teknik dan UPL tentang teknik-teknik pelaksanaan konstruksi prasarana dan administrasi pencatatan atau pelaporan kegiatan pembangunan prasarana yang akan dilakukan KSM selam pelaksanaan konstruksi.
Kegiatan ini sangat penting dan diharapkan dapat dilakukan sebelum pelaksanaan kegiatan konstruksi guna meningkatkan pemahaman dan keterampilan KSM sehingga tidak menemui kesulitan dalam melaksanakan kegiatan konstruksi secara benar, sesuai persyarata teknis yang ditentukan.
Kegiatan ini harus dilakukan sesederhana mungkin dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh KSM sehingga mereka benar-benar mampu dan siap untuk melaksanakan kegiatan fisik dan pengadministrasiannya. Adapun cakupan substansi materi kegiatan ini mengacu pada standar teknis dan administrasi yang telah ada dalam PNPM Mandiri Perkotaan dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap KSM, khususnya terkait jenis prasarana yang dibangunnya.
Proses pembelajaran KSM ini diharapkan akan berlanjut pada kegitan “Praktek Kerja dilapangan/On the Job Trainning (OJT)” pada setiap awal pelaksanaan kegiatan konstruksi dilapangan (tahap pelaksanaan konstruksi).
6. Sosialisasi Kegiatan
Pada tahap ini, KSM melakukan sosialisasi kepada warga, khususnya anggota KSM bersangkutan mengenai keseluruhan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan sesuai SPPD-L;
7. Pembuatan & Pemasangan Papan Nama Kegiatan
Sebelum kegiatan fisik dimulai, KSM harus membuat dan memasang papan nama kegiatan/sub-proyek pada tempat strategis dilokasi kegiatan. Papan nama ini dimaksudkan untuk memberikan informasi dan transparansi kegiatan serta wajib terpasang selama kegiatan pembangunan prasarana berlangsung.
Informasi yang perlu tercantum dalam Papan Nama Proyek ini antara lain : Wilayah administratif kegiatan (kelurahan, kecamatan & kabupaten); Nama BKM Penanggung jawab Kegiatan; Jenis/Nama Kegiatan; Volume Kegiatan; Biaya Kegiatan (Swadaya, BLM dan Total); Waktu pelaksanaan; Lokasi kegiatan; Nama KSM Pelaksana


Jembatan

I. UMUM

I.1. Definisi

Jembatan adalah suatu bangunan konstruksi diatas sungai yang digunakan sebagai prasarana lalulintas darat.

I.2. Kriteria Sistem

Lingkup jembatan dalam proyek ini adalah jem,batan yang melengkapi sisitem lalulintas ekonomi dan transportasi masyarakat desa, yaitu :

§ Jembatan pada jalan desa yang menghubungkan desa dengan desa lain atau kota sebagai prasarana perhubungan ekonomi dan komunikasi desa;

§ Jembatan pada jalan desa yang menghubungkan perkampungan dengan pusat pemerintahan desa atau pusat kegiatan ekonomi/pasar desa.

§ Jembatan pada jalan desa yang menghubungkan perkampungan dengan pusat kegiatan produksi, seperti : pertanian, perkebunan, dll.

I.3. Teknologi dan Jenis Konstruksi

Perencanaan teknis dilaksanakan oleh Konsultan Pendamping, dibantu Kepala Pelaksana (mandor) dan alternative desain sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Pelaksanaan dan pemeliharaan dilakukan oleh masyarakat desa itu sendiri dengan bahan bangunan diutamakan dari bahan yang ada/mudah diperoleh di daerah tersebut.

I.4. Jenis Konstruksi

Kriteria jenis konstruksi yang disarankan dalam proyek ini adalah :

§ Jembatan untuk lalulintas orang dan kendaraan roda dua dengan konstruksi dari bambu atau kayu.

§ Jembatan untuk lalulintas kendaraan beroda empat dengan beban ringan 3,5 ton, yaitu jembatan kayu dan jembatan kayu dengan gelagar besi.

ALTERNATIF PILIHAN KONSTRUKSI JEMBATAN

Jenis Konstruksi

Fungsi Pemakaian

Ukuran Konstruksi

Jembatan Bambu

Pejalan kaki & roda dua

Lebar maks. = 2,0 meter

Panjang maks = 10,0 meter

Jembatan Gantung

Pejalan kaki & roda dua

Lebar maks. = 1,5 meter

Panjang maks = 60,0 meter

Jembatan Kayu

Kendaraan roda empat beban ringan

Lebar maks. = 3,5 meter

Panjang maks = 6,0 meter

Jembatan Kayu dengan Gelagar Besi

Kendaraan roda empat beban ringan

Lebar maks. = 4,5 meter

Panjang maks = 15,0 meter

Catatan : Gunakan bentang dengan kelipatan 3 meter untuk jembatan gelagar kayu, dan 5 meter bila menggunakan gelagar profil baja.


Jembatan konstruksi beton dengan gelagar beton dan lantai plat beton dapat digunakan bila keadaan mengijinkan.

I.2. Gambar Perencanaan

Gambar dibuat di kertas A3 yang terdiri dari :

- Gambar Tata Letak

- Gambar denah dan potongan

- Gambar detail konstruksi

Gambar dapat dilakukan dengan sket dengan syarat dapat dibaca dan dimengerti mandor, dengan ukuran dalam cm.

I.3. Perhitungan Volume Pekerjaan

Dibuat dengan berdasar gambar yang sudah selesai dan disetujui dalan MAD berupa Daftar Kebutuhan Bahan, pada blangko yang telah tersedia.

I.4. Perhitungan Kebutuhan Hari Orang Kerja (HOK)

Pelaksanaan pembangunan dilakukan oleh masyarakat setempat dengan menitikberatkan pada masyarakat miskin, dan perlu kesepatakan penggunaan tenaga kerja dan kebutuhan HOK untuk menyelesaikannya. Kebutuhan tenaga terampil minimal 2 orang tukang kayu.

I.5. Perhitungan Rencana Anggaran Biaya

RAB (Rencana Anggaran Biaya) dibuat berdasar hasil perhitungan volume pekerjaan dan kebutuhan Hari Orang Kerja serta hasil suvei harga bahan.

Rencana anggaran biaya ini harus disetujui oleh Ketua Umum LKMD, Konsultan Pendamping, dan Pimpro yang harus bisa dimengerti oleh pelaksana lapangan (mandor)

II. JEMBATAN BAMBU

II.1. Perencanaan Teknis

a. Survei Lokasi

Hal-hal yang harus diperhatikan dalan survey lokasi :

- kondisi situasi penampang sungai yang dilewati jalan atau rencana jalan.

- Rencana posisi jembatan

- Pengukuran lebar sungai untuk mengetahui rencana bentang jembatan

- Data tinggi air maksimum / tinggi air banjir yang pernah terjadi yang didapat dari penduduk setempat dan di control dengan data yang ada di Dinas Pengairan setempat.

- Survei harga material yang tersedia dan material yang harus dibeli dari luar desa.

b. Kriteria Desain

Alternatif pemilihan desain konstruksi, setelah diperoleh bentang yang dibutuhkan :

- Jembatan bambo tipe Dua Perletakan, untuk batang maksimum 5,0 meter

- Jembatan bambo tipe Sokongan, untuk bentang maksimum 10,0 meter

Tinggi jagaan (clearance) minimum 1,0 meter dari tinggi muka air banjir. Pengikat struktur bamboo digunakan tali ijuk dengan diameter minimum 8 mm

II.2. Teknis Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan pembangunan, yaitu sebagai berikut :

a. Pembersihan lokasi

b. Persiapan material

c. Pekerjaan konstruksi jembatan

d. Pembersihan dan pemulihan lokasi

a. Pembersihan Lokasi

Pembersihan dilakukan dengan cangkul, sabit, dsb pada lokasi yang akan digunakan untuk jembatan dan telah ditentukan sebelumnya agar bersih dari pohon-pohonan, akar-akaran, dan tonggak-tonggak.

Amankan lahan yang akan digunakan dengan pagar agar tidak terganggu oleh orang dan binatang.

b. Persiapan Material

Bambu yang digunakan untuk konstruksi jembatan harus cukup tua dengan kualitas baik, lurus dan panjang, diantaranya jenis bambu gombong, bambu tali, dan bambu betung,. Bambu ini memiliki kekuatan, keuletan, dan keawetan yang baik, atau jenis lain dengan persyaratan antara lain :

- Bambu harus berumur tua, berwarna kuning jernih, hitam atau hijau tua, berbintik putih pada pangkalnya, berserat padat dengan permukaan mengkilat, buku-bukunya tidak boleh pecah.

- Pelupuh dan barang anyaman bambu seperti dan lain-lain harus terbuat dari bambu yang terndam dengan baik, tahan lama dan terbuat dari jenis bambu dengan garis tengah minimum 4 cm dan harus terbuat dari kulit bambu.

- Bambu untuk tiang atau cerucuk stabilitas tanah, harus dari jenis yang tahan lama dengan garis tengah minimum 8 cm.

c. Pemasangan Konstruksi Jembatan.

1) Pemasangan Kepala Jembatan

Pemasangan kepala jembatan ditandai dengan patok yang dipasang dengan tinggi yang menggambarkan tinggi jembatan yang akan dibangun.

- Ratakan tanah disekitar perletakan untuk kepala jembatan

- Letakkan dua batang bambu ke arah melintang dengan panjang sesuai lebar jembatan dengan diameter bambu ± 10 -14 cm dan diperkuat dengan 3 buah pasak bambu pada setiap batang bambu tersebut.

- Pancangkan dikedua sisi bamboo perletakan masing-masing 5 batang dengan panjang ± 1,50 meter dan jarak bersih antara batang 30 cm.

- Pemancangan dengan palu tangan, berat 8-10 kg, bila tanah asli cukup keras, pemancangan dihentikan saat bambu susah masuk.

2) Pemasangan Gelagar Memanjang

Bambu dipasang arah memanjang dengan bantuan perancah selebar 1,5 meter. Pengikatan dilakukan dengan menggunakan tali ijuk atau kawat dengan jarak antar ikatan 2 meter. Perkuatan tambahan untuk ikatan gelagar memanjang dengan mengikat dengan besi beton diameter maksimal 6 mm.

3) Membuat Tiang Sokongan

Tiang sokongan terdiri dari dua batang bambu yang diikat satu sama lain dengan ijuk atau kawat.

- Pancangkan tiang sokongan pada kedua tebing sungai dengan kedalaman 2,5 meter.

- Hubungkan bagian atas kedua sokongan pada masing-masing sisi tebing dengan tali ijuk/kawat.

- Pasang batang mendatar (panjang 3 meter / sesuaikan dengan lebar jembatan + 30 cm) pada puncak sokongan dengan tali ijuk/kawat.

4) Pemasangan Batang Tegak

- Batang tegak terdiri dari dua batang bambu yang terpisah.

- Kedua batang tegak dilubangi ± 8 cm pada bagian sebelah atas batang mendatar, kedalam lubang tersebut dimasukkan pasak batang bambu ukuran 8 cm, antara batang tegak diperkuat dengan ikatan silang dari ijuk/kawat. Batang tegak diperkuat dengan ikatan silang dari ijuk.

Catatan : Satu lubang untuk pasak dibuat tepat di bawah buku bambu.

- Hubungan seperti diatas dilakukan juga pada batang yang dipasang di bawah lantai jembatan dengan lubang pasak diletakkan di atas buku bambu.

5) Pemasangan Lantai

Pasang anyaman bambu dilantai jembatan dengan cara mengikatnya pada besi pengikat gelagar memanjang.

6) Pemasangan Tiang Sandaran

Pasang tiang sandaran setinggi satu meter dari lantai jembatan dengan cara mengikatkan pada batang tegak dengan menggunakan tali ijuk, dengan jarak tiang 1 meter.

Hubungkan bambu dari tiang pada bagian atas dan diikat satu sama lain.

III. JEMBATAN GANTUNG

III.1. Perencanaan Teknis

a. Survei Lokasi

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan survei sama dengan yang tertulis pada jembatan bambu. ( Secara umum pelaksanaan survey lokasi sama untuk pembangunan jembatan jenis apa saja)

b. Kriteria Desain

Alternatif pemilihan desain konstruksi dari material bambu setelah diperoleh bentang yang dibutuhkan, ukuran lebar 1,5 meter dan panjang maksimum 60 meter.

Bentang

(m)

H

(m)

f

(m)

Ø seling

Pengaku

Ø kabel

Utama

Δf

(m)

15

20

25

30

35

40

45

50

55

60

3,0

3,5

4,0

5,0

6,0

7,0

7,5

8,0

9,0

10,0

1,5

2,0

2,5

3,0

3,5

4,0

4,5

5,0

5,5

6,0

3/8”

1/2”

1/2”

1/2”

5/8”

5/8”

5/8”

3/4”

3/4”

3/4”

1/2”

5/8”

5/8”

3/4”

3/4”

7/8”

7/8”

1”

1 1/8”

1 1/4”

0,31

0,42

0,52

0,62

0,73

0,83

0,94

1,04

1,15

1,25

III.2. Tahap Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan pembangunan, yaitu sebagai berikut :

a. Pembersihan lokasi

b. Persiapan material

c. Pekerjaan konstruksi jembatan

d. Pembersihan dan pemulihan lokasi

a. Pembersihan Lokasi

Pembersihan dilakukan sama dengan jembatan bambu.

b. Persiapan Material

Material yang disiapkan sebelum pelaksanaan pembangunan yaitu :

- Tiang utama (Pylon), dibuat di bengkel besi. Pelaksanaan di lapangan hanya tinggal merakit dan menyetel pada lantai pondasi.

- Klem, kabel sling, besi penggantung, warfel, dll jumlahnya tergantung kebutuhan, jadi ditentukan pada saat perencanaan.

- Kayu balok, papan, paku untuk lantai jembatan.

- Batu belah, pasir dan semen unutk pondasi.

c. Pemasangan Konstruksi Jembatan

1) Penentuan as jembatan dengan menggunakan patok kayu, ketinggian jembatan ditentukan pada patok tersebut. Usahakan jembatan berdiri pada posisi datar.

2) Gali pondasi untuk dudukan pylon dan pondasi angker.

3) Buat pasangan batu kali untuk pondasi pylon dan blok angker dengan campuran 1 semen : 3 pasir, angker untuk landasan pylon, kabel dan untuk pengaku harus dipasang dengan benar.

4) Pasang tiang pylon yang sudah dibuat di luar lokasi, kemudian baut pada hubungan antara tiang pylon dan pondasi dikencangkan.

Pengaku dari besi siku dipasang melintang pada ujungatas pylon dengan baut.

5) Pasang kabel dengan menghubungkan dua blok angker di kedua tepi sungai melalui kedua puncak (rol) pylon yang dilewati. Sambungan kabel dan blok angker harus menggunakan warfel.

6) Pasang besi penggantung dan gelagar melintang dimulai dari bagian (segmen I) yang paling dekat dengan Pylon.

7) Pemasangan bangian II dan seterusnya, sama dengan pemasangan bagian I. Untuk kelancaran kerja, antara 2 gelagar melintang dipasang lantai sementara. (dari bambu/papan/balok kayu).

8) Pasang kabel seling (pengaku) di bawah gelagar.

9) Pasang gelagar memanjang yang menumpu pada gelagar melintang. Penyambungan gelagar-gelagar memanjang tidak boleh dalam satu garis (harus seling-seling).

10) Pasang lantai jembatan

IV. JEMBATAN KAYU DAN JEMBATAN GELAGAR BESI

IV.1. Perencanaan Teknis

A. Survei Lokasi

Semua kegiatan survei untuk pembangunan jembatan pada umumnya sama dengan penjelasan sebelumnya

B. Kriteria Desain

Jembatan desa difungsikan untuk prasaranan penghubung lalu lintas kendaraan ringan dengan volume rendah

1. Ketentuan Tinggi Jagaan (ruang bebas dibawah jembatan / clearance)

Kondisi

Sifat Aliran Sungai

Tinggi Jagaan dari Muka Air Banjir (MAB)

Irigasi

Dataran

Perbukitan

Tenang

Tenang

Deras

Tenang

Deras

0.50 meter

0.60 meter

1.00 meter

1.0 meter

1.50 meter

2. Konstruksi Bangunan Atas

a. Bentang Jembatan

Bentang jembatan < 6 m dengan gelagar kayu

Bentang jembatan 6 s/d 15 meter dengan gelagar besi

b. Konstruksi jembatan gelagar kayu

Konstruksi jembatan gelagar kayu dengan dua perletakan

- Kayu yang digunakan minimal kayu klas kuat II (kruing, meranti merah, rasamala, atau menggunakan bahan lokal)

- Lantai menggunakan kayu 6/20 cm

- Baut dan paku untuk sambungan struktur kayu.

Berikut Tabel Dimensi Gelagar Kayu untuk Jembatan Beban Ringan

Bentang Bersih

Penampang Balok

Panjang Balok

Ukuran Balok

(mm)

Lebar Jembatan (m)

2.5

3

4.5

Jumlah Balok

s/d 3,0 m

Persegi panjang

Persegi

bundar

3,0 m

+ 50 cm

255 × 150

215 × 215

255

3

4

6

s/d 4,5 m

Persegi panjang

Persegi

bundar

4,5 m

+ 50 cm

300 × 150

240 × 240

300

3

4

6

s/d 6,0 m

Persegi panjang

Persegi

bundar

6,0 m

+ 50 cm

300 × 200

280 × 280

400

3

4

6

c. Konstruksi Jembatan Gelagar Besi

Konstruksi jembatan gelagar besi dengan dua perletakan system simple beam

i. Besi profil yang digunakan I profil

ii. Lantai dengan balok kayu 6/20 cm

iii. Baut dan paku untuk menghubungkan elemen struktur besi dan kayu

Tabel Dimensi Gelagar Kayu untuk Jembatan Beban Ringan

Bentang Bersih

Penampang Gelagar (m)

Tinggi (H)

(mm)

Lebar Leher

(mm)

Berat per m’

(kg)

Lebar Jembatan (m)

2.5

3

4.5

Jumlah Balok

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

3

14

15

16

3,5

4,5

5,5

6,5

7,5

8,5

9,5

10,5

11,5

12,5

13,5

14,5

15,5

16,5

200

200

230

260

280

300

320

360

380

400

425

425

450

475

90

90

102

113

119

125

131

143

149

155

163

163

170

178

78

105

166

250

333

430

545

757

918

1100

1340

1442

1725

2040

3

4

6

3. Pembebanan Jembatan

Pembebanan pada jmebtan untuk lalu lintas ringan

- Beban merata 300 kg/cm2

- Beban kendaraan ringan : poros depan 1,5 ton

Poros belakang 3,5 ton

4. Konstruksi Bangunan Bawah

Konstruksi bangunan bawah jembatan terdiri dari kepala jembatan dengan pondasi langsung.

a. Pondasi langsung tipe pasangan batu kali.

b. Pondsi langsung tipe balok kayu

c. Pondasi tiang pancang kayu untuk tanah jelek

5. Kontruksi Tiang Pancang

Konstruksi ini digunakan untuk bangunan bawah jembatan yang lokasinya berada di tanah jelek, sehingga kayu yang dugunakan harus terbuat dari kayu klas kuat I

- Ukuran balok kayu persegi 15 × 15 cm s/d 30 × 30 cm

- Ukuran balok gelondong / bulat diameter 24 cm s/d 34 cm

kedalaman pancang yang disyaratkan untuk pondasi ini minimal 3 meter dan maksimum 6 meter.

Pemancangan dilakukan dengan menggunakan palu pemukul yang pemukulannya

R = W x H/6S x 15

Dimana : R = Pembebanan aman (kg)

W = berat palu (kg)

H = tinggi jatuh palu dikurangi 2 kali tinggi balik palu (cm)

S = tinggi penurunan (cm)

IV.2. TEKNIS PELAKSANAAN

Tahap pelaksanaan pembangunan, yaitu sebagai berikut :

a. Pembersihan lokasi

b. Persiapan material

c. Pekerjaan konstruksi jembatan

d. Pembersihan dan pemulihan lokasi

a. Pembersihan Lokasi

Pembersihan lokasi secara garis besar sama dengan pembersihan lokasi untuk pembangunan jembatan pada umumnya.

b. Persiapan Material

Jembatan Kayu

- Kayu balok 15/30 atau 30/30 atau kayu gelondong diameter 24 s/d 40 cm

- Papan kayu dimensi 8/25 cm

- Kayu kaso/usuk 5/7

- Besi strip tebal 4 mm × lebar 50 mm

- Paku, tali sabut

- Sirtu (40% pasir dan 60% batu)

- Batu kali

- Meterial lainnya sesuai dengan gambar rencana

Jembatan Kayu Gelagar Besi

- Kayu balok 30/15 atau 30/30 atau kayu gelondongan (kayu dolken) besar diameter 24 s/d 40 cm

- Besi profil I sesuai dengan ukuran untuk jembatan gelagar besi

- Papan kayu tebal 8/25

- Besi siku L 40. 60. 5 ; L. 70. 700. 7 ; L 90. 150. 10

- Besi strip tebal 4 mm × lebar 50 mm

- Paku dan mur baut

- Sirtu (40% pasir dan 60 5 batu)

- Batu kali

- Material lainnya sesuai dengan gambar rencana

c. Pemasangan Konstruksi Jembatan

1. Penentuan as jembatan

Gunakan patok kayu dengan ketinggian jembatan sesuai dengan tinggi patok, yang kemudian tarik benang pada patok tersebut.

2. Pembuatan pondasi jembatan dan kepala jembatan.

Pondasi langsung tipe batu kali untuk tanah yang kurang baik.

- tentukan rencana ukuran pondasi batu kali

- gali tanah hingga kedalaman yang ditentukan, atau sampai tanah keras.

- hamparkan pasir urug setebal 10 cm dan padatkan.

- Pasang pondasi batu kali dengan speci 1 semen : 3 pasir, sesuai dengan rencana ukuran pondasi.

- Tempatkan balok kayu dimensi 30 × 30 cm sebagai tumpuan, diangkur dengan besi beton Ø12 mm, yang ditanam ke pondasi panjang 75 cm, setiap 50 cm.

Pondasi langsung Tipe Balok kayu untuk tanah stabil dan tanah keras.

- Gali tanah sedalam 50 cm, lebar 150 cm

- Tempatkan balok kayu persegi atau bulat, panjang 5 m ke arah melintang dengan jarak bersih 30 cm antar batang, sebagai pondasi lapis pertama.

- Tempatkan balok kayu persegi atau bulat, panjang 1,5 m diatas lapis pertama sebagai pondasi lapis kedua. Jarak as ke as balok lapis kedua 100 cm dengan takikan 5 cm.

- Tempatkan balok kayu persegi atau bulat untuk lapis ketiga dengan susunan sama dengan lapisan pertama.

- Tempatkan balok kayu persegi atau bulat untuk lapis ketiga dengan susunan sama dengan lapisan kedua.

- Tempatkan satu balok sebagai tumpuan gelagar jembatan pada bagian tengah pondasi, untuk balok bulat bagian atasnya diratakan setebal 5 cm.

- Isi bagian kosong pada bagian belakang antara balok dengan batu kerikil 2 -3 cm yang dipadatkan lapis demi lapis.

Catatan : Untuk pondasi langsung tipe balok kayu susunan yang digunakan sama dengan jarak antar balok 30 cm

Pondasi Tiang Pancang Kayu untuik tanah kurang baik.

Kedalaman pancang kayu untuk tanah kurang baik.

- Pancangkan 6 batang kayu ukuran 30 × 30 cm yang ujung-nya telah diruncingkan pada posisi as jembatan, yang dipukul dengan palu beton berat 100 kg ukuran 30 × 30 × 50 cm, dengan tinggi jatuh 50 – 100 cm.

- Penghentian pemancanggan apabila pada 10 kali pukulan terakhir, dengan tinggi jatuh 100 cm, jumlah penurunan kumulatif 5 m.

- Penyambungan tiang pancang denagn cara memotong kedua bagian tiang kemudian diklem dengan plat besi 3 cm × 3 mm dan diikat dengan kawat Ø 3 mm

- Di atas tiang pancang dipasang balok kayu ukuran 30 × 30 cm yang menghubungkan dua tiang pancang dengan cara diklem dengan plat atau menggunakan paku pengapit dari besi beton Ø 16 mm.

- Pasang balok kayu sbagai tumpuan gelagar antara dua kepala tiang pancang, panjang 3,5 meter atau sesuai lebar rencana jembatan dan pasang kayu pengapit pada setiap tiang pancang.

3. Pemasangan gelagar jembatan dan lantai jembatan

a. Gelagar kayu

Pemasangan gelagar balok dilakukan setelah kegiatan pondasi dan kepala jembatan, pemasangan gelagar diatas balok tumpuan. Klem gelagar jembatan ke balok tumpu dengan pondasi.

Pasang lantai jembatan dari kayu 8/25 dan pakukan ke gelagar jembatan.

Pada bagian lintasan roda dipasang papan 4/30 sepanjang jembatan.

b. Gelagar Besi

Gelagar besi tidak memerlukan balok tumpu, gelagar dipasang diatas pondasi

Pasang lantai jembatan dari kayu 8/25, yang diikat dengan 2 baut sekrup Ø 10 mm dan plat pengapit ke gelagar jembatan.

Dibagian lintasan roda kendaraan dipasang papan 4/30 sepanjang jembatan.

4. Pemasangan sandaran pengaman (tiang sandaran/hand railing)

Tiang sandaran dari kaso 5/7 dengan cara pasangnya yaitu memakukannya pada balok tepi.

V. JEMBATAN BETON

Untuk desain dan konstrusi jembatan beton konsultan pendamping dapat menggunakan Standar Bina Marga / KIMPRASWIL untuk jalan kabupaten.

Keuntungan dan kerugian penggunaan jembatan beton dibanding jembatan kayu atau jembatan gelagar besi, antara lain:

Keuntungan

- Masa pakainya lebih lama

- Kebutuhan untuk pemeliharaan seharusnya/relatif lebih ringan

- Harga tidak jauh berbeda dengan jembatan kayu, dan lebih murah daripada gelagar besi

- Dapat dibangun di tempat yang tidaj ada kayu dan pengangkutan gelagar besi sangat sulit/relatif mahal

- Masyarakat mendapatkan ketrampilan baru, yaitu cara menggunakan bahan beton yang notabene sangat dipengaruhi oleh tingkat dan kualitas pemahaman struktur beton dan cara pengerjaannya.

Kerugian

- Perlu ketrampilan khusus dalam desain

- Perlu pengawasan yang tenaga trampil yang dapat mengawasi tanpa meninggalkan lokasi bangunan

- Perlu perhatian khusus untuk menjamin kualitas pekerjaan

- Sangat peka terhadap penurunan tanah (settlement)/ turunnya pondasi, maka perlu pondasi yang terjamin kuat

- Lebih sulit pemeliharaan bila ada kerusakan

- Kerusakan lebih sulit dideteksi sampai dengan jembatan ambruk, maka lebih berbahaya

- Bila dibuat lebar dan panjang, proporsi biayanya sangat besar, dan proporsi dana untuk bahan lebih tinggi dibanding proporsi untuk tenaga kerja

- Tanpa pengawasan yang ketat, resiko kegagalan cukup besar

- Ketrampilan untuk membangun jembatan beton tidak dapat diterapkan oleh masyarakat sendiri pada masa pasca proyek, karena sangat bergantung pada konsultan dan pemngawas. Mereka tidak mendapatkan ketrampilan yang dapat diterapkan pada kebutuhan lain-lain.

Persyaratan untuk Jembatan Beton

Karena masalah-masalah yang telah diuraikan diatas, maka perlu beberapa pembatasan dan persyaratan untuk jembatan beton, sebagai berikut :

1. Ukuran bentang dibatasi yaitu 6 meter. Untuk bentang lebih panjang harus mendapatkan persetujuan dari konsultan inti dan Pimpro berdasarkan hasil dan temuan di lapangan, dan hal ini perlu didukung dengan alasan yang sangat kuat

2. Desainer harus sudah berpengalaman dalam pembuatan jembatan beton

3. Harus tersedia tenaga pengawas lapangan yang sudah berpengalaman dengan pembuatan struktur yang sama. Orang tersebut harus siap bekerja di tempat jembatan selama pelaksanaan jembatan, dan tidak boleh merangkap pengawas lokasi proyek lain.

4. Pondasi harus jelas kuat dan stabil, yang dapat diperiksa melalui tes pit atau pengeboran (soil auger). Jembatan beton tidak diijinkan pada lokasi yang mempunyai sifat tanah kurang stabil dan daya tahan lemah. Jembatan beton untuk lokasi dengan tanah kurang baik memerlukan suatu penelitian yang cukup mahal, termasuk test laboratorium tanah, dengan pondasi yang rumit dan mahal. Harganya sudah tidak memenuhi persyaratan yang ada pada pedoman operasional program.

Petunjuk Praktis Pemeliharaan Rutin Jalan

PERKERASAN LENTUR BERLAPIS PENUTUP (FLEXIBLE PAVED ROADS)

1. KEGEMUKAN ASPAL (BLEEDING)

LOKASI :
Dapat terjadi pada sebagian atau seluruh permukaan jalan.
CIRI-CIRI :
Tampak lelehan aspal pada permukaan jalan, permukaan jalan tampak lebih hitam dan mengkilat dari bagian
yang lain.
TINGKAT KERUSAKAN :
Diukur dengan luas (m2) permukaan jalan yang terpengaruh.
KEMUNGKINAN PENYEBAB UTAMA :
Pemakaian aspal yang tidak sesuai baik dalam jumlah (kadar aspal terlalu tinggi) maupun jenisnya.
AKIBAT :
Bila dibiarkan, akan menimbulkan lipatan-lipatan (keriting) atau lubang-lubang pada permukaan jalan,
dan menyebabkan jalan licin (berbahaya bagi pemakai jalan).
USAHA PERBAIKAN :
Lakukan Penanganan P1 (Penebaran Pasir).
BAHAN UTAMA :
Pasir kasar, ukuran butiran lebih besar dari 5mm.

PERALATAN:
a. Sekop
b. Sapu
c. Gerbak pasir.

PENGAMANAN LALU-LINTAS
Lakukan pengamanan lalu-lintas seperti pada lampiran I.

2. RETAK GARIS

LOKASI :
a. Retak Memanjang : arah sejajar dengan sumbu jalan, biasanya pada jalur roda kendaraan atau sepanjang tepi perkerasan atau pelebaran.
b. Retak Melintang : arah memotong sumbu jalan. Terjadi pada sebagian atau seluruh lebar jalan.
CIRI-CIRI :
Tampak celah-celah retakan memanjang atau melintang pada permukaan jalan.
TINGKAT KERUSAKAN :
Diukur dengan lebar retakan dan panjang retakan.
KEMUNGKINAN PENYEBAB UTAMA :
a. Kesalahan pelaksanaan, terutama pada sambungan pelaksanaan atau sambungan pelebaran.
b. Pemakaian bahan yang tidak sesuai dengan persyaratan.
c. Penyusutan atau retak pada lapisan pondasi.
d. Penyusutan pada tanah dasar, terutama untuk tanah lempung ekspansif (expansive clay).
AKIBAT :
Bila dibiarkan, air hujan akan meresap ke dalam konstruksi perkerasan dan menimbulkan kerusakan
yang lebih parah seperti lubang-lubang, ambles.

USAHA PERBAIKAN :
1. Untuk retak halus (< 2 mm) dan jarak antara retakan renggang, lakukan penanganan P2
(Laburan aspal setempat).
2. Untuk retak halus (< 2 mm) dan jarak antara retakan rapat, lakukan penanganan P3 (Melapis cetakan).
3. Untuk retak lebar (> 2 mm), lakukan penanganan P4 (Mengisi retakan).
BAHAN UTAMA :
1. Aspal emulsi
2. Agregat halus
3. Aspal minyak (untuk penanganan P4)
PERALATAN:
a. Sekop
b. Sapu.
c. Gerobak pasir.
d. Alat pemadat ringan.
e. Penyemprot aspal (asphalt sprayer)

PENGAMANAN LALU-LINTAS
Lakukan pengamanan lalu-lintas seperti pada lampiran I.

3 RETAK RAMBUT (HAIR CRACKS) DAN RETAK KULIT BUAYA (ALLIGATOR CRACKS)

LOKASI :
Dapat terjadi pada alur roda atau pada bagian lain dari permukaan jalan.
CIRI-CIRI :
Tampak retakan dengan arah tidak beraturan dan saling berpotongan. Lebar retakan : < 2 mm (retak rambut). > 2 mm (retak k. buaya)
TINGKAT KERUSAKAN :
Diukur dengan lebar retakan (mm) dan luas retakan (m2).
KEMUNGKINAN PENYEBAB UTAMA :
1 . konstruksi perkerasan tidak kuat_ mendukung beban lalu-lintas yang ada.
2. lapis permukaan terlalu tipis
3. pemilihan campuran yang terllu kaku untuk lapis permukaan yang tipis.
4. kelelahan lapis permukaan akibaat beban lalulintas dan umur jalan.
5. daya dukung tanah (badan jalan) sangat rendah atau menurun akibat meresapnya air kedalam konstruksi perkerasan.
6. stabilitas atau pemadatan lapis permukaan tidak memadai.
AKIBAT :

1. Bila dibiarkan, kerusakan jalan akan lebih parah karena pengaruh air yang meresap.

2. Retak rambut akan berkembang menjadi retak kulit buaya.
3. Retak kulit buaya akan berkembang menjadi lubang
dan ambles.
USAHA PERBAIKAN :
1. Retak rambut, lakukan Penanganan P2 (Laburan Aspal Setempat).
2. Retak kulit buaya, lakukan Penanganan (Patching).
BAHAN UTAMA :
1. Aspal emulsi
2. Agregat halus
PERALATAN :
a. Sekop
b. Sapu.
c. Gerobak pasir.
d. Alat pemadat ringan.
e. Penyemprot aspal (asphalt sprayer).

PENGAMANAN LALU-LINTAS
Lakukan pengamanan lalu-lintas seperti pada lampiran 1.

4. ALUR (RUTS) TANPA RETAK

LOKASI :
Pada bagian jalan yang sering dilalui roda kendaraan (jalur roda).
CIRI-CIRI :
Terjadi cekungan permanen pada jalur roda kendaraan. Pada kondisi ekstrim penampang jalan berbentuk W,
dan tampak bagian aspal yang terdesak kesamping (jembul).
TINGKAT KERUSAKAN :
Diukur dengan kedalaman alur dan panjang untuk alur.
KEMUNGKINAN PENYEBAB UTAMA :
1. Lapis tanah dasar atau pondasi tidak kuat mendukung beban lalu-lintas karena salah perencanaan atau kurang pemadatan.
2. Stabilitas lapis permukaan tidak memenuhi syarat, karena salah campuran atau kurang pemadatan.
3. Pengaruh jumlah dan beban lalu lintas yang melebihi jumlah dan beban rencana.
4. Perubahan sifat aspal akibat cuaca (panas) atau tumpahan minyak.
5. Campuran aspal yang digunakan tidak baik,misalnya : kadar aspal tidak terlalu tinggi, terlalu
banyak bagian halus (filler), pemakaian kerikil bulat, dan kurang pemadatan.
AKIBAT :

1. Membahayakan keselamatan pemakai jalan.
2. Alur akan diikuti retakan dan menimbulkan kerusakan yang lebih parah terutama pada musim hujan, seperti lubang-lubang.

USAHA PERBAIKAN :
1. Alur ringan, lakukan Penanganan P6 (Perataan).
2. Alur yang cukup parah, lakukan Penanganan P5
(Penambalan lubang).
BAHAN UTAMA :
1. Campuran aspal dingin (cold-mix)
2. Lapis perekat (tack-coat)
3. Bahan lapisan pondasi.
PERALATAN :
a. Belincong
b. Sekop
c. Alat pemadat ringan
d. Sapu
e. Penyemprot aspal
f. Alat perata

PENGAMANAN LALU-LINTAS
Lakukan pengamanan lalu-lintas seperti pada lampiran 1.

5. ALUR (RUTS) DENGAN RETAKAN

LOKASI :
Pada bagian jalan yang sreing dilalui roda kendaraan (jalur roda), pada tepi perkerasan.
CIRI-CIRI :
Tampak cekungan permanen dan retakan pada permukaan jalan.
TINGKAT KERUSAKAN :
Diukur dengan panjang alur dan kedalaman alur.
KEMUNGKINAN PENYEBAB UTAMA :
1. Tebal perkerasan tidak memdai.
2. Pengaruh jumlah dan beban lalu-lintas yang melebihi jumlah dan beban rencana.
3. Akibat meresapnya air dari bahu jalan atau saluran.
4. Kadar lempung tinggi pada lapisan pondasi.
AKIBAT :
1. Membahayakan keselamatan pemakai jalan.
2. Bila dibiarkan, menimbulkan kerusakan yang lebih parah terutama pada musim hujan, seperti lubang-lubang.
USAHA PERBAIKAN :
1. Hindari kerusakan lebih lanjut dengan memperbaiki selokan samping dan pemeliharaan bahu jalan,
hingga air dapat cepat mengalir.
2. Lakukan usaha perbaikan seperti pada Alur tanpa retakan.

BAHAN UTAMA :
1. Campuran asal dingin (cold-mix)
2. Lapis perekat (tack-coaat)
3. Bahan lapisan pondasi.
PERALATAN:
a. Belincong
b. Sekop
c. Alat pemadat ringan
d. Sapu
e. Penyemprot aspal
f. Alat perata

PENGAMANAN LALU-LINTAS
Lakukan pengamanan lalu-lintas seperti pada lampiran 1.

6. KERUSAKAN TEPI (EDGE BREAK)

LOKASI :
Pada sebagian atau sepanjang tepi perkerasan.
CIRI-CIRI :
Tampak retakan dan kerusakan lapisan permukaan pada tepi perkerasan.
TINGKAT KERUSAKAN :
Diukur dengan lebar dan panjang bagian jalan yang rusak.
KEMUNGKINAN PENYEBAB UTAMA :
1. Bagian tepi perkerasaan sering dilalui kendaraan karena jalan terlalu sempit atau untuk parkir.
2. Kurangnya dukungan dari bahu jalan, karena bahu jalan terlalu rendah (akibat tergerus air) atau
karena bahu jalan tidak padat.
3. Kepadatan lapis permukaan di tepi perkerasan tidak memadai.
4. Pengaruh air yang meresap dari bahu jalan.
AKIBAT :
1. Kerusakan akan cepat merambat ke bagian jalan yang lain.
2. Membahayakaan bahu jalan.
USAHA PERBAIKAN :
1. Lakukan Penanganan P5 (penambalan lubang) untuk lapis perkerasan.
2. Perbaiki bahu jalan.

BAHAN UTAMA :
1. Campuran aspal dingin (cold-mix)
2. Lapis pengisap (prime-coat)
3. Lapis perekat (tack-coat)
4. Bahan lapisan pondasi.
PERALATAN:
a. Belincong
b. Sekop
c. Alat pemadat ringan
d. Sapu
e. Penyemprot aspal
f. Alat perata

PENGAMANAN LALU-LINTAS
Lakukan pengamanan lalu-lintas seperti pada lampiran 1.

7. KERITING (CORRUGATIONS)

LOKASI :
Dapat terjadi pada setiap bagian permukaan jalan.
CIRI-CIRI :
Permukaan jalan tampak bergelombang atau keriting dengan arah tegak lurus sumbu jalan.
TINGKAT KERUSAKAN :
Diukur dengan kedalaman gelombang dan luas yang terpengaruh.
KEMUNGKINAN PENYEBAB UTAMA :
1. Terjadi pergeseran bahan perkerasan jalan.
2. Lapis perekat antara lapis permukaan dan lapis pondasi tidak memadai.
3. Pengaruh roda kendaraan, terutama di daerah dimana kendaraan sering berhenti (mengerem) atau
menambah kecepatan, misainya di persimpangan jalan.
4. Salah satu lapis perkerasan tidak cukup kaku akibat kesalahan perencanaan atau pelaksanaan.
AKIBAT :
Membahayakan keselamatan pemakai jalan, dan mengurangi kenyamanan.
USAHA PERBAIKAN :
1. Untuk keriting ringan, lakukan Penanganan P6 (Perataan).
2. Untuk keriting parah, lakukan Penanganan P5 (Penambalan lubang).

BAHAN UTAMA :
1. Campuran aspal dingin (cold-mix)
2. Lapis perekat (tack-coat)
3. Bahan lapisan pondasi.
PERALATAN:
a. Belincong
b. Sekop
c. Alat pemadat ringan
d. Sapu
e. Penyemprot aspal
f. Alat perata

PENGAMANAN LALU-LINTAS
Lakukan pengamanan lalu-lintas seperti pada lampiran 1.

8. LUBANG-LUBANG (POTHOLES)

LOKASI :
Dapat terjadi pada setiap bagian permukaan jalan.
CIRI-CIRI :
Bahan lapis permukaan hilang dan membentuk lubanglubang bulat.
TINGKAT KERUSAKAN :
Diukur dengan kedalaman lubang dan luas daerah yang terpengaruh.
KEMUNGKINAN PENYEBAB UTAMA :
1. Merupakan perkembangan dari jenis kerusakan jalan lain (retak, ambles, alur, dan lain-lain) yang
tidak segera ditangani.
2. Pengaruh beban lalu-lintas dan cuaca (terutama hujan) akan mempercepat terbentuknya lubang.
AKIBAT :
1. Membahayakan keselamatan pemakai jalan, danmengurangi kenyamanan.
2. Bila dibiarkan, kerusakan akan berlanjut sehingga jalan tidak layak dilalui kendaraan.
USAHA PERBAIKAN :
1. Untuk lubang yang dangkal (< 20 mm), lakukan Penanganan P6 (Perataan).
2. Untuk lubang > 20 mm, lakukan Penanganan P5 (Penambalan lubang).

BAHAN UTAMA :
1. Campuran aspal dingin (cold-mix)
2. Lapis perekat (tack-coat)
3. Bahan lapisan pondasi.
PERALATAN:
a. Belincong
b. Sekop
c. Alat pemadat ringan
d. Sapu
e. Penyemprot aspal
f. Alat perata

PENGAMANAN LALU-LINTAS
Lakukan pengamanan lalu-lintas seperti pada lampiran 1.

9. JEMBUL (SHOVING)

LOKASI :
Umumnya terjadi disekitar alur roda kendaraan atau ditepi perkerasan.
CIRI-CIRI :
Lapis permukaan tampak menyembul terhadap permukaan disekitarnya.
TINGKAT KERUSAKAN :
Diukur dengan luas (m2) daerah yang terpengaruh.
KEMUNGKINAN PENYEBAB UTAMA :
1. Pengaruh air yang meresap kedalam konstruksi perkerasan.
2. Mutu bahan perkerasan tidak memadai.
3. Pelaksanaan pekerjaan tidak baik.
4. Pengaruh beban kendaraan, terutama yang melebihi beban standar.
AKIBAT :
1. Membahayakan keselamatan pemakai jalan.
2. Retak-retak akan terbentuk disekitar lokasi jembul dan air yang meresap mempercepat kerusakan
lebih lanjut.
USAHA PERBAIKAN :
1. Jembul ringan, lakukan Penanganan P6 (Perataan).
2. Jembul parah, lakukan Penanganan P5 (Penambalim lubang).

BAHAN UTAMA :
1. Campuran aspal dingin (cold-mix)
2. Lapis perekat (tack-coat)
3. Bahan lapisan pondasi.
PERALATAN :
a. Belincong
b. Sekop
c. Alat pemadat ringan
d. Sapu
e. Penyemprot aspal
f. Alat perata

PENGAMANAN LALU-LINTAS
Lakukan pengamanan lalu-lintas seperti pada lampiran 1.

10. PENURUNAN SETEMPAT (DEFORMATION)
LOKASI :
Umumnya terjadi disekitar alur roda kendaraann atau ditepi perkerasan.
CIRI-CIRI :
Tampak penurunan setempat permukaan jalan membentuk cekungan besar.
TINGKAT KERUSAKAN :
Diukur dengan kedalaman dari penurunan dan luas (m2) daerah yang terpengaruh.
KEMUNGKINAN PENYEBAB UTAMA :
1. Daya dukung konstruksi jalan atau badan jalan tidak memadai atau menurun akibat pengaruh air.
2. Mutu bahan dan pekerjaan konstruksi perkerasan tidak seragam.
3. Kurangnya dukungan samping dari bahu jalan karena konstruksi bahu jalan tidak padat.
AKIBAT :
1. Membahayakan keselamatan pemakai jalan.
2. Retak-retak akan terbentuk disekitar lokasi penurunan dan air yang meresap akan mempercepat kerusakan lebih lanjut.
USAHA PERBAIKAN :
1. Periksa dan perbaiki selokan atau gorong-gorong yang rusak, sehingga air cepat mengalir.
2. Periksa dan perbaiki bahu jalan.

3. Penurunan dangkal (< 50 mm), lakukan Penanganan P6 (Perataan).
4. Penurunan dalam (> 50 mm), lakukan Penanganan P5 (Penambahan lubang).
BAHAN UTAMA :
1. Campuran aspal dingin (cold-mix)
2. Lapis perekat (tack-coat)
3. Bahan lapisan pondasi.
PERALATAN
a. Belincong
b. Sekop
c. Alat pemadat ringan
d. Sapu
e. Penyemprot aspal
f. Alat perata.

PENGAMANAN LALU-LINTAS
Lakukan pengamanan lalu-lintas seperti pada lampiran 1.

JENIS-JENIS PENANGANAN
P1 Penebaran Pasir (Sanding).
a. Tetapkan daerah yang akan ditangani.
b. Tebarkan pasir kasar (ukuran lebih besar dari 5 mm).
c. Ratakan dengan sapu.
P2 Laburan Aspal Setempat (Local Sealing).
a. Bersihkan bagian yang akan ditangani. Permukaan jalan harus bersih dan keying.
b. Beri tanda persegi pada daerah yang akan
ditangani, dengan cat atau kapur.
c. Semprotkan aspal emulsi sebanyak 1,5 kg/m2 pada bagian yang sudah diberi tanda hingga merata.
d. Tebarkan pasir kasar atau anggregat halus, dan ratakan hingga menutup seluruh daerah yang ditangani.
e. Bila digunakan anggregat halus, padatkan dengan alat pemadat ringan.

P3 Melapis retakan (Crack Sealing)
a. Bersihkan bagian yang akan ditangani. Permukaan jalan harus bersih dan kering.
b. Beri tanda daerah yang akan ditangani, dengan cat atau kapur.
c. Buat campuran aspal emulsi dengan pasir, dengan perbandingan :
– pasir : 20 liter.
– aspal emulsi : 6 liter.
Aduk campuran tersebut hingga merata.
d. Tebar dan ratakan campuran tersebut pada seluruh daerah yang sudah diberi tanda.

P4. Mengisi retakan (Crack Filling)
a. Bersihkan bagian yang akan ditangani. Permukaan jalan harus bersih dan kering.
b. Isi retakan dengan aspal minyak panas.
c. Tutup retakan yang sudah diisi aspal dengan pasir kasar.
P5. Penambalan lubang (Patching)
a. Buat tanda persegi pada daerah yang akan ditangani dengan cat atau kapur. Tanda persegi tersebut harus mencakup bagian jalan yang baik.
b. Gali lapisan jalan pada daerah yang sudah diberi tanda persegi, hingga mencapai lapisan yang padat.
c. Tepi galian harus tegak, dasar galian harus rata dan mendatar.
d. Padatkan dasar galian.
e. Isi lubang galian dengan bahan pengganti, yaitu:
* bahan lapis pondasi agregat,
* atau campuran aspal dingin.
f. Padatkan lapis demi lapis. Pada lapis terakhir, lebihkan tebal bahan pengganti sehingga diperoleh permukaan akhir yang padat dan rata dengan permukaan jalan.
g. Lakukan laburan aspal setempat di atas lapisan terakhir (lihat penanganan retak garis).
P6. Perataan (Levelling)
a. Bersihkan bagian yang akan ditangani. Permukaan jalan harus bersih dan kering.
b. Beri tanda daerah yang akan ditangani, dengan cat atau kapur.
c. Siapkan campuran aspal dingin (cold mix).
d. Semprotkan lapis perekat (tack coat) dengan takaran 0,5 kg/m2.
e. Tebarkan campuran aspal dingin pada daerah yang sudah ditandai. Ratakan dan lebihkan ketebalan hamparan kira-kira 1/3 dalam cekungan.
f. Padatkan dengan mesin penggilas hingga rata.

PERKERSAN LENTUR TANPA LAPIS PENUTUP (UNPAVED ROADS)

1. ALUR (RUTTING)

LOKASI :
Pada bagian jalan yang sering dilalui roda kendaraan (jalur roda).
CIRI-CIRI :
Terjadi cekungan permanen pada jalur roda kendaraan. Pada kondisi ekstrim penampang jalan berbentuk W,
dan tampak bagian permukaan jalan yang terdesak kesamping (jembul).
TINGKAT KERUSAKAN :
Diukur dengan kedalaman alur dan panjang alur.
KEMUNGKINAN PENYEBAB UTAMA :
1. Pengaruh lalu-lintas (jumlah kendaraan, beban gandar, kecepatan kendaraan).
2. Pengaruh cuaca. Material terlepas pada musim kering dan tercampur lumpur dan lembek pada musim hujan.
3. Gradasi bahan tidak memenuhi persyaratan (terlalu banyak pasir, atau terlalu banyak lempung).
AKIBAT :
1. Pada musim hujan, alur akan menjadi jalan aliran air dan tergerus sehingga menimbulkan kerusakan yang lebih parah.
2. Membahayakan pemakai jalan.
3. Menimbulkan kerusakan yang lebih parah, sehingga tidak layak dilalui kendaraan.

USAHA PERBAIKAN :
1. Periksa dan perbaiki selokan samping dan gorong-gorong, hinggaa air dapat mengalir lancar.
2. Untuk alur ringan hingga sedang (kedalaman alur <5 cm), lakukan penanganan U2 Perataan (Levelling) dan Perbaikan Kemiringan (Regrading).
3. Untuk alur yang parah ( > 5 cm), lakukan Penanganan U3 Penambahan Kerikil (Regravelling).
BAHAN UTAMA :
1. Sirtu.
2. Bahan-bahan lain.
PERALATAN:
a. Cangkul
b. Belincong
c. Sekop
d. Motor Grader
e. Mesin pemadat

PENGAMANAN LALU-LINTAS
Lakukan pengamanan lalu-lintas seperti pada Lampiran I.

2. KERITING (CORRUGATONS)
LOKASI :
Dapat terjadi pada setiap bagian permukaan jalan.
CIRI-CIRI :
Permukaan jalan tampak bergelombang atau keriting dengan arah tegak lurus sumbu jalan.
TINGKAT KERUSAKAN :
Diukur dengan kedalaman gelombang dan luas daerah yang terpengaruh.
KEMUNGKINAN PENYEBAB UTAMA :
1. Gradasi bahan tidak memenuhi persyaratan (kadar lempung terlalu rendah).
2. Pada musim kering, material akan kehilangan daya ikat (kohesi) dan terlepas akibat pengaruh roda
kendaraan.
AKIBAT :
1. Membahayakan keselamatan pemakai jalan.
2. Menimbulkan kerusakan yang lebih parah, seperti lubang-lubang.
USAHA PERBAIKAN :
1. Periksa dan perbaiki selokan samping dan goronggorong, hingga air dapat mengalir lancar.
2. Untuk keriting ringan hingga sedang ( < 5 cm), lakukan penanganan U2 Perataan (Levelling) dan
Perbaikan Kemiringan (Regrading).
3. Untuk keriting yang parah ( > 5 cm), lakukan Penanganan U3 Penambahan Kerikil (Regravelling).

BAHAN UTAMA :
1. Sirtu.
2. Tahan-bahan lain.
PERALATAN :
a. Cangkul
b. Belincong
c. Sekop
d. Motor Grader
e. Mesin pemadat.

PENGAMANAN LALU-LINTAS
Lakukan pengamanan lalu-lintas seperti pada Lampiran I.

3. PERBAIKAN KEMIRINGAN MELINTANG (CAMBER/CROSSFALL)
LOKASI :
Dapat terjadi pada setiap bagian permukaan jalan.
CIRI-CIRI :
Perubahan kemiringan melintang jalan dari kemiringan semula.
TINGKAT KERUSAKAN :
Diukur dengan tinggi perbahan dan luas daerah yang terpengaruh.
KEMUNGKINAN PENYEBAB UTAMA :
1. Bahan lapis permukaan aus atau hilang karena pengaruh lalu-lintas.
2. Terjadi penurunan badan jalan yang tidak seragam.
3. Terjadi pergeseran material akibat pengaruh lalulintas.
AKIBAT :
1. Aliran air permukaan akan terhambat, sehingga air menggenang dipermukaan.
2. Air yang tergenang akan segera menyebabkan terbentuknya lubang-lubang atau ambles.
USAHA PERBAIKAN :
1. Untuk perbaikan kemiringan yang ringan hingga sedang (< 5cm), lakukan penanganan U2 Perataan
(Levelling) dan Perbaikan Kemiringan (Regrading).
2. Untuk perbaikan kemiringan yang parah ( > 5cm), lakukan Penanganan U3 Penambahan Kerikil (Regravelling).

BAHAN UTAMA :
1. Sirtu
2. Bahan-bahan lain.
PERALATAN :
a. Cangkul
b. Belincong
c. Sekop
d. Motor Grader
e. Mesin pemadat

PENGAMANAN LALU-LINTAS
Lakukan pengamanan lalu-lintas seperti pada Lampiran I.

4. GERUSAN (EROSION GULLIES)
LOKASI :
Dapat terjadi pada setiap bagian permukaan jalan.
CIRI-CIRI :
Tampak alur-alur bekas aliran air, hingga tanah dasar (badan jalan) terlihat. Bagian halus dari material terpisah dan terbawa aliran air. Tergantung lokasi dan arah aliran air, gerusan dapat berupa gerusan tepi perkerasan, gerusan melintang dan gerusan memanjang.
TINGKAT KERUSAKAN :
Diukur dengan kedalam gerusan dan luas atau panjang daerah yang dipengaruhi.
KEMUNGKINAN PENYEBAB UTAMA :
1. Terlambat menangani kerusakan yang lebih ringan, seperti type A2.1, A2.2, dan A2.3.
2. Pengaruh cuaca (terutama hujan, banjir, pasang surut).
3. Kurang pemadatan dan gradasi material tidak memenuhi syarat sehingga daya ikat (kohesi) antara butiran tidak memadai.
4. Selokan samping atau gorong-gorong tidak berfungsi dengan baik.
5. Kemiringan melintang jalan tidak memadai, sehingga air di permukaan jalan tidak dapat segera dialirkan ke selokan.
AKIBAT :
Bila dibiarkan, jalan akan terputus dan membahayakan pemakai jalan.
USAHA PERBAIKAN :
1. Periksa dan perbaiki selokan samping sehingga air dapat mengalir lancar.
2. Bila gerusan tidak mencapai tanah dasar, lakukan Penanganan U3 Penambahan Kerikil (Regravelling), dan perbaiki kemiringan melintang sesuai persyaratan.
3. Bila gerusan mencapai tanah dasar, lakukan perbaikan tanah dasar terlebih dahulu (penggantian/
pengurungaan, pemadatan, perataan dan pembentukan kembali kemiringan tanah dasar), kemudian lakukan Penanganan U3 Penambahan Kerikil (Regravelling), dan perbaiki kemiringan melintang sesuai persyaratan.
BAHAN UTAMA :
1. Sirtu.
2. Material pilihan (Selected Material) untuk perbaikan tanah dasar.
PERALATAN :
a. Cangkul
b. Belincong
c. Sekop
d. Motor Grader
e. Mesin pemadat

PENGAMANAN LALU-LINTAS
Lakukan pengamanan lalu-lintas seperti pada Lampiran I.

5. LUBANG (POTHOLES)
LOKASI :
Dapat terjadi pada setiap bagian permukaan jalan.
CIRI-CIRI :
Bahan lapis permukaan hilang dan membentuk lubanglubang pada permukaan luas daeah yang dipengaruhi.
KEMUNGKINAN PENYEBAB UTAMA :
1. Merupakan perkembangan dari jenis kerusakan lain yang tidak segera ditangani.
2. Pengaruh cuaca (terutama hujan) dan lalu-lintas mempercepat terbentuknya lubang-lubang.
3. Selokan samping atau gorong-gorong tidak berfungsi baik, atau muka air tanah tinggi.
AKIBAT :
1. Membahayakan keselamatan pemakai jalan.
2. Bila dibiarkan, kerusakan akan berlanjut sehingga jalan tidak layak dilalui kendaraan.
USAHA PERBAIKAN :
1. Periksa dan pebaiki selokan samping dan gorong-gorong sehingga air dapat mengalir lancar.
2. Untuk lubang yang tidak mencapai tanah dasar, lakukan Penanganan U2 Perataan (Levelling) dan Perbaikan kemiringan (Regrading).
3. Untuk lubang yang mencapai tanah dasar, lakukan Penanganan U1 Penambalan lubang (Patching). Bila
perlu, ganti dahulu bahan tanah dasar dengan Material pilihan kemudian dipadatkan.

BAHAN UTAMA :
1. Sirtu
2. Material pilihan (Selected Material) untuk perbaikan tanah dasar.
PERALATAN:
a. Cangkul
b. Belincong
c. Sekop
d. Motor Grader
e. Alat pemadat ringan

PENGAMANAN LALU-LINTAS
Lakukan pengamanan lalu-lintas seperti pada Lampiran I.

6. AMBLES (DEPRESSIONS)
LOKASI :
Dapat terjadi pada setiap bagian permukaan jalan.
CIRI-CIRI :
Tampak penurunan setempat dari permukaan jalan.
TINGKAT KERUSAKAN :
Diukur dengan kedalaman penurunan dan luas daerah yang terpengaruh.
KEMUNGKINAN PENYEBAB UTAMA :
1. Tanah dasar tidak kuat mendukung beban lalu-lintas karena daya dukungnya rendah atau karena
pengaruh air atau mengandung banyak humus.
2. Pengaruh lalu-lintas (kecepatan, jumlah, dan beban gandar).
3. Pemadatan tidak seragam atau tidak memadai.
AKIBAT :
1. Membahayakan keselamatan pemakai jalan.
2. Bila dibiarkan, akan mengakibatkan kerusakan yang lebih parah sehingga jalan tidak layak dilalui
kendaraan.
USAHA PERBAIKAN :
1. Periksa dan perbaiki selokan samping dan gorong-gorong sehingga air dapat mengalir lancar.
2. Untuk ambles ringan hingga sedang ( <5 cm), lakukan Penanganan U2 Perataan (Levelling) dan
Perbaikan kemiringan (Regrading).
3. Untuk ambles yang parah (> 5 m), lakukan penanganan Penambalan (Patching). Bila perlu, ganti dahulu bahan tanah dasar dengan Material pilihan kemudian dipadatkan.
BAHAN UTAMA :
1. Sirtu
2. Material Pilihan (Selected Material) untuk perbaikan tanah dasar.
PERALATAN:
a. Cangkul
b. Belincong
c. Sekop
d. Motor Grader
e. Alat pemadat

PENGAMANAN LALU-LINTAS
Lakukan pengamanan lalu-lintas seperti pada Lampiran I.

7. AUS (WEARING)
LOKASI :
Terjadi terutama pada jalur roda kendaraan
CIRI-CIRI :
Ketebalan lapisan kerikil berkurang karena pengaruh lalu-lintas, butiran halus hilang karena tererosi atau
tertiup angin.
TINGKAT KERUSAKAN :
Diukur dengan sisa ketebalan yang ada dan luas daerah yang terpengaruh.
KEMUNGKINAN PENYEBAB UTAMA :
1. Pengaruh lalu-lintas.
2. Pemadatan kurang
3. Kurang partikel halus, sehingga daya lekat (kohesi) antar butiran tidak memadai.
4. Pengaruh cuaca (panas, hujan, angin).
AKIBAT :
Bila dibiarkan, dapat menimbulkan alur atau ambles.
USAHA PERBAIKAN :
Lakukan Penanganan U2 Perataan (Levelling) dan Perbaikan kemiringan (Regrading).
BAHAN UTAMA :
1. Sirtu.
2. bahan-bahan lain.

PERALATAN:
a. Motor grader
b. Dump-truck.
c. Mesin Pemadat.
d. Cangkul.
e. Belincong
f. Sekop

PENGAMANAN LALU-LINTAS
Lakukan pengamanan lalu-lintas seperti pada Lampiran I.

JENIS-JENIS PENANGANAN UNTUK PEMELIHARAAN ALAN TANPA LAPIS PENUTUP.
U1. PENAMBALAN LUBANG (PATCHING)
1. Tentukan daerah perkerasan yang akan ditangani.
2. Gali perkerasan yang sudah ditentukan dan buang bahan galian tersebut.
3. Penggalian harus mencapai lapisan bawah yang mantap.
4. Bidang galian harus tegak lurus dan dasar galian harus diratakan.
5. Bila galian mencapai tanah dasar yang tidak padat dan basah, gali dan buang tanah tersebut dan ganti
dengan material pilihan dan kemudian dipadatkan.
5. Isi lubang galian dengan material (sirtu) pengganti yang sudah disiapkan. Padatkan lapis demi lapis.
6. Lapis terakhir harus mempunyai kerataan yang sama dengan bagian permukaan jalan yang lain.

U2. PERATAAN (LEVELLING) DAN PERBAIKAN KEMIRINGAN (REGRADING)
1. Tentukan daerah perkerasan yang akan ditangani.
2. Garuk bagian jalan yang sudah ditentukan dengan motor grader atau secara manual sampai kedalaman 3-4 cm.
3. Bila diperlukan, tambahkan sirtu secukupnya dan campurkan dengan material hasil garukan hingga
merata.
4. Ratakan dan bentuk kemiringan melintang sesuai persyaratan dengan motor grader atau secara manual. Bila material terlalu kering, tambahkan air secukupnya.
5. Padatkan dengan mesin pemadat, hingga diperoleh kepadatan yang optimum dan seragam.

U3. PENAMBAHAN KERIKIL (REGRAVELLING)
1. Tentukan daerah perkerasan yang akan ditangani.
2. Garuk bagian jalan yang sudah ditentukan dengan motor grader atau secara manusia sampai kedalaman 3-4 cm.
3. Hamparkan sirtu pada daerah garukan. Tebal sirtu sebelum dipadatkan kira-kira 1,20 × tebal padat yang direncanakan
4. Ratakan dan bentuk kemiringan melintang sesuai persyaratan dengan motor grater atau secara manual. Bila material terlalu kering, tambahkan air secukupnya.
5. Padatkan dengan mesin pemadat, hingga diperoleh kepadatan yang optimum dan seragam.

B. PERKERASAN KAKU (RIGID PAVEMENTS)
B1. KERUSAKAN PENGISI CELAH MELINTANG (TRANSVERSE JOINTS).
LOKASI :
Dapat terjadi pada setiap sambungan melintang slab beton.
CIRI-CIRI :
Pengisi celah (joint sealant) terkelupas atau retak-retak).
TINGKAT KERUSAKAN :
Diukur dengan panjang celah yang terpengaruh.
KEMUNGKINAN PENYEBAB UTAMA :
1. Pengaruh cuaca, terutama panas matahari.
2. Kesalahan pelaksanaan, misalnya :
* Kebersihan tidak terjaga
* Kualitas bahan pengisi tidak memadai.
AKIBAT :
Bila dibiarkan, air akan meresap ke lapisan di bawah slab dan dapat menimbulkan kerusakan yang lebih
parah.
USAHA PERBAIKAN :
lakukan Penanganan K1 Perbaikan Celah Ekspansi (Expansion Joint Repair).
BAHAN UTAMA :
1. Bahan pengisi celah, misalnya rubberised asphalt.
2. Bahan-bahan lain.

BAHAN UTAMA :
1. Semen pengisi.
PERALATAN :
1. Mesin bor beton
2. Air compressor.
3. Mesin penyuntik (mudjacking machine)

PENGAMANAN LALU-LINTAS :
1. Selama pelaksanaan, arus lalu-lintas yang menggunakan slab yang sedang ditangani harus dialihkan.
2. Lakukan pengamanan lalu-lintas seperti pada Lampiran I.

B2. PENURUNAN SLAB DI SAMBUNGAN (STEPPING AT TRANSVERSE JOINTS)
LOKASI :
Dapat terjadi pada setiap sambungan melintang slab beton.
CIRI-CIRI :
1. Tampak penurunan salah satu slab atau penurunan slab yang tidak seragam pada sambungan melintang.
2. Bila dilalui kendaraan, kendaraan mengalami benturan pada rodanya.
TINGKAT KERUSAKAN :
Diukur dengan kedalaman perbedaan penurunan antara kedua slab.
KEMUNGKINAN PENYEBAB UTAMA :
1. Terdapat rongga di bawah slab kaerna material lapis pondasi tergerus air.
2. Terjadi penurunan badan jalan yang tidak seragam.
AKIBAT :
1. Penurunan slab mengakibatkan bahan pengisi celah retak, sehingga air dapat meresap ke lapisan bawah
dan menimbulkan kerusakan yang lebih parah.
2. Membahayakan keselamatan pemakai jalan.
USAHA PERBAIKAN :
Lakukan Penanganan K2 Penyuntikan (Mudjacking).

PERALATAN :
1. Alat pengisi celah.
2. Air compressor.
3. Perkakas kecil untuk mengupas pengisi celah lama.

PENGAMANAN LALU-LINTAS :
Lakukan pengamanan lalu-lintas seperti pada Lampiran I.

B3. SLAB PECAH DAN RETAK DI SAMBUNGAN (SPALLING AT JOINTS AND CRAKCS)
LOKASI :
Umumnya terjadi pada sambungan melintang (transverse joints) dan pada retakan.
CIRI-CIRI :
Bagian slab beton terkelupas atau gompal. Arah kupasan umumnya miring ke arah sambungan.
TINGKAT KERUSAKAN :
Diukur dengan lebar kupasan dan lebar slab yang terpengaruh.
KEMUNGKINAN PENYEBAB UTAMA :
1. Kesalahan pelaksanaan, misalnya pada saat pemadatan beton terjadi pemisahan bahan (segregasi).
2. Sebagai perkembangan (pengaruh beban lalulintas) dari jenis kerusakan type B2 (Penurunan Slab di sambungan) yang tidak segera ditangani.
AKIBAT :
1. Bila dibiarkan, pengaruh cuaca dan beban lalulintas akan menimbulkan kerusakan yang lebih parah.
2. Mengurangi kenyamanan dan membahayakan keselamatan pemakai jalan.
USAHA PERBAIKAN :
Lakukan Penanganan K3 Penambalan.
BAHAN UTAMA :
1. Campuran beton dengan kualitas yang setara.
2. Epoxy.

PERALATAN :
1. Perkakas pekerjaan tembok/beton.
2. Air compressor

PENGAMANAN LALU-LINTAS :
Lakukan pengamanan lalu-lintas seperti pada Lampiran I.

JENIS-JENIS PENANGANAN UNTUK PEMELIHARAAN PERKERASAN ALAN KAKU (RIGID)
K1. PERBAIKAN CELAH EKSPANSI (EXPANSION JOINT REPAIRS)
1. Kupas pengisi celah yang rusak.
2. Bersihkan celah dari debu atau bahan lepas lain.
3. Isi lubang dengan bahan pengisi yang sudah disiapkan terlebih dahulu, misalnya rebberised asphalt dengan menggunakan corong khusus.
K2. PENYUNTIKAN (MUD-JAACKING) :
Jenis penanganan ini diperlukan untuk mengangkat slab beton yang turun atau untuk mengisi rongga di bawah slab dengan semen pengisi.
1. Buat lubang-lubang pada slab beton dengan renggunakan mesin bor beton. Diameter lubang antara 3,7 dan 6,2 cm.
2. Bersihkan lubang-lubang tersebut dengan mesin penyemprot angin (air compressor).
3. Siapkan mesin penyuntik (mudjack machine) dan siapkan semen pengisi dalam mesin pengaduk.
4. Pompakan semen pengisi dari mesin penyuntik kedalam lubang-lubang yang sudah disiapkan.
K3 PENAMBALAN:
1. Bersihkaan bagian slab yang pecah sehingga terbebas dari debu atau bahan lepas lainnya.
2. Tambal bagian slab yang pecah tersebut dengan campuran beton/epoxy.
3. Ratakan permukaan akhir sehingga rata dengan bagian slab yang lain.

LAMPIRAN 1
PENGAMANAN LALU-LINTAS SEMENTARA
Pengaturan lalu-lintas secara manual dikerjakan bila
1. Lalu-lintas dua arah harus melewati satu jalur jalan.
2. Lalu-lintas harus berhenti saat jalan tidak dapat dilalui.
3. Untuk memperlambat kecepatan lalu-lintas saat memasuki daerah pekerjaan jalan.
PERLENGKAPAN :
1. Petugas pengatur lalu-lintas harus mengenakan pakaian yang mudah dilihat, misalnya berwarna cerah atau rompi khusus.
2. Sarung tangan putih agar pengemudi mudah membaca gerakan tangan.
3. Rambu JALAN (warna biru) dan rambu STOP (warna merah).
4. Bendera warna merah dengan ukuran 50 cm × 50cm.
5. Barikade dari kerucut (cones) pengaman lalulintas.
Kerucut harus berwama cerah.
PEMILIHAN DAN JUMLAH PETUGAS PENGATUR LALU-LINTAS
1. Karena petugas pengatur lalu-lintas langsung menghapi kendaraan yang bergerak (cepat), maka
petugas tersebut harus cukup pandai dan penuh tanggung jawab.
2. Bila daerah pekerjaan cukup panjang, umumnya diperlukan 2 (dua) orang petugas. Setiap petugas ditempatkan di ujung daerah pekerjaan jalan.
3. Bila daerah pekerjaan pendek, 1 (satu) orang petugas yang ditempatkan di tengah daerah pekerjaan cukup memadai.
4. Bila setiap petugas tidak dapat melihat petugas yang lain, misalnya ditikungan, maka diperlukan petugas
tambahan yang ditempatkan ditengaah sebagai penerus aba-aba darii satu petugas ke petugas lainnya.

PETUGAS PENGATUR LALU-LINTAS

bertanggung jawab untuk :
1. Melindungi keselamatan petugas yang sedang bekerja memperbaiki jalan.
2. Mengarahkan kendaraan melalui daerah pekerjaan
dengan aman.
LOKASI PETUGAS PENGATUR LALU-LINTAS :

1. Berdiri ditepi jalan atau dibahu jalan sehingga mudah terlihat oleh pengemudi, atau diujung daerah yang dibatasi barikade.

2. Jarak lokasi berdiri petugas pengatur lalu-lintas dan petugas dilokasi pekerjaan harus cukup hingga mudah dibedakan oleh pengendara dan cukup jarak bagi pengendara untuk mengerem kendarannya.
PENGGUNAAN RAMBU STOP DAN RAMBU JALAN
1. Memerintahkan kendaraan untuk berhenti (stop)
a. Berdiri menghadap kendaraan yang akan diperintahkan untuk berhenti.
b. Pegang rambu STOP dengan tangan kiri. Tanda STOP menghadap ke arah datangnya kendaraan. Angkat tangan kanan dengan telapak tangan menghadap ke depan.

Penguatan Tebing

Perkuatan Lereng adalah suatu bentuk bangunan konstruksi non struktrural dan atau tanaman yang digunakan untuk melindungi permukaan lereng galian atau timbunan akibat erosi tanah karena air dan angin. Tetapi, perkuatan lereng tidak difungsikan untuk menahan beban.

Metoda Stabilisasi Lereng
Untuk melakukan pekerjaan stabilisasi lereng dapat dipergunakan
beberapa jenis material perkuatan lereng seperti :
(1) Bahan konstruksi
(2) Tanaman / tumbuhan
(3) Material lain

1. Perkuatan Lereng Dengan Bahan Konstruksi
Yang dimaksud dengan bahan konstruksi adalah semua material
keras dan tidak lapuk oleh pengaruh cuaca serta lingkungan
dalam waktu yang lama, antara lain :
(1) Beton (blok beton)
(2) Batu (batukali, batu marmer)
(3) Batu bata
Beberapa contoh cara penempatan bahan konstruksi pada perkuatan
lereng.

2. Perkuatan Lereng Dengan Tanaman
Tanaman (tumbuhan) yang dipergunakan harus mampu menahan erosi pada lereng secara effektif. Tanaman penutup tanah atau tanaman konservasi tanah tersebut dapat berupa
1) Tanaman Rumput
Perkuatan lereng dengan tanaman rumput dapat dilakukan pada kemiringan 0 derajat – 60 derajat.
Penanaman rumput ada 2 cara yaitu :
a. Penanaman biji atau tunas rumput dianjurkan untuk
daerah dengan kemiringan 0 derajat – 30 derajat
b. Penanaman lempengan/ gebalan rumput
a) Penanaman rumput dengan biji atau tunas (“Sprigging”)
– bersihkan lereng dari rumput-rumput liar dan kotoran kotoran lainnya, kemudian ratakan kembali permukaan lereng;
– persiapkan media tanam yaitu dengan mencampur tanah yang banyak mengandung bahan organik (“top soil”) dengan pupuk kandang dengan perbandingan pupuk = 1 dan tanah = 2 , pupuk : tanah = 1 : 2;
– untuk tanah yang berpasir dapat digunakan pupuk buatan (NPK) sebanyak 450 – 680 kg per hektar dengan
perbandingan N : P : K = 4 : 8 : 4 atau 5 : 10 : 5;
– ganti tanah yang tidak memenuhi syarat(“subsoil”) dengan tanah yang banyak mengandung bahan
organik (humus) di sekitar daerah penanaman;
– buat lubang berselang-seling, untuk menghindari erosi yang terjadi pada lereng tersebut, khususnya
sebelum rumput tumbuh menutupi permukaan seluruh permukaan tanah;

– buat lubang dengan kedalaman 7 cm, dengan jarak antar lubang 15 cm;
– potong tunas rumput setinggi 5 cm dan tanam biji atau tunas ke dalam lubang.
b) Penanaman Lempengan Rumput(Gebalan Rumput/ “Sodding”)
– siapkan lempengan rumput dengan ukuran 25 cm x 25cm;
– buat lubang dengan ukuran 25 cm x 25 cm dengan kedalaman 20 cm;
– buat jarak antar lubang 45 cm, bila akan dilakukan penanaman dengan cara lempengan berjarak dan bila
akan dilakukan penanaman dengan cara lempengan menyeluruh, jarak antar lubang 30 cm;.
– isi lubang dengan media tanam dengan komposisi yang sama dengan media untuk rumput dengan biji/tunas, setinggi 8 cm, kemudian tanam lempengan rumput;
– pasang pasak bambu dengan diameter 1 cm, panjang 30 cm, pada ke empat sudut lempengan untuk menghindari jatuhnya lempengan rumput tersebut selama perakaran belum kuat.

2) Tanaman Penutup Tanah
Tanaman penutup tanah dapat dilakukan dengan memperhatikan pola bertanam sebagai berikut :
– tanah dibersihkan dari segala kotoran dan telah digemburkan.
– media tanam telah disesuaikan dengan perbandingan top soil dan pupuk 2 : 1.
– menentuan titik tanam.
a. Dengan pola penanaman rapat.
Titik tanam dibuat bersilang untuk tanaman dengan pertumbuhan tidak cepat.
Contoh : Althernantera amoena – Krokot

b. Dengan pola penanaman berbaris.
Titik tanam dibuat berjajar untuk tanaman untuk tanaman dengan pertumbuhan cepat.
Contoh :
Widelia trilobata – Widelia /Seruni
Calopogonium mucunoides – Kacang-kacangan

ukuran lubang tanaman 10 x 10 cm

3) Tanaman Berakar Serabut
Tanaman ini dapat ditanam pada tebing dengan pembuatan teras agar memperkuat tebing dan memberi kesan estetika. Pembuatan teras dapat dilakukan sesuai dengan tanaman yang akan ditanam.

Tanaman berakar serabut ini dapat ditanam sebagaitanaman pada tebing dengan perlakuan sebagai berikut :
– permukaan tanah yang ditanami harus dalam keadaan bersih dan gembur. Ketebalan lapisan olah cukup untuk perakarannya.
– dibuat guludan yang mendatar untuk penahan longsor tanah. Pada tanah guludan digunakan “top soil”.
– lebar dan dalam lubang (a) max selebar tajuk optimum tanaman.
– perakaran sebaiknya tidak melebihi batas kemiringan tanah asal.
– pada lubang tanaman dimasukkan campuran “top soil” dan pupuk yaitu dengan perbandingan 2 : 1.
– setelah ditimbun tanah dipadatkan.

4) Tanaman Berakar Dalam dan Panjang
Tanaman berakar dalam dan panjang membutuhkan pembuatan teras (sengkedan) terlebih dahulu yang disesuaikan dengan kemiringan tanah.
Contoh jenis tanaman yang dapat dipergunakan :
– Calliandra sp – Caliandra
– Cassia siamea – Johar
– Sesbania grandiflora – Kemlandingan
a. Kemiringan 3% – 10%.
Pada kemiringan ini dibuat teras kridit. Pembuatan teras ini dimulai dengan membuat jalur penguat teras sejajar garis tinggi. Jarak antar jalur 5 – 12 m. Kemudian dibuat guludan dengan ukuran
dalam lebih kurang 30 cm dan lebar 20 cm.

b. Kemiringan 10% – 50%.
Pada kemiringan ini dibuat teras pematang/guludan. Jarak antara guludan 2 – 3 m.

c. Cara lain membuat teras untuk tanaman berakar dalam dan panjang, dengan kelandaian 1 : 1,5 jarak teras
1,5 m menggunakan penahan teras dari pasangan batu.

2.3.3 Perkuatan Lereng Dengan Material Lain
Yang dimaksud dengan material lain adalah dengan mulsa (Mulch), yaitu menutupi permukaan tanah dengan serasah yang berkemampuan menahan erosi. Menutupl permukaan tanah dengan menaburi atau menghamparkan serpihan kayu ataugabus dengan penggarukan menyilang pada permukaan lereng terlebih dahulu.

Persyaratan
Persyaratan untuk penggunaan tanaman/tumbuhan sebagai perkuatan lereng harus memehuhi ketentuan sebagai berikut :
(1) Lokasi yang cukup sinar matahari
(2) Kelandaian lereng yang memenuhi syarat
(3) Perawatan yang memadai
(4) Jenis tanah

CBR (California Bearing Rasio)

Rasio dari gaya perlawanan penetrasi  dari tanah terhadap sebuah piston yang ditekan secara kontinu  dengan gaya perlawanan penetrasi serupa pada cintoh tanah standard berupa batu pecah di California. Rasio tersebut diambil pada penetrasi 2,5 dan 5,0 mm (0,1 dan 0,2 in) dengan ketentuan angka tertinggi yang digunakan.

Gaya perlawanan adalah gaya yang diperlukan untuk menahan penetrasi konstan dari suatu piston ke dalam tanah.

Tujuan percobaan ini adalah untuk menilai kekuatan tanah dasar yang dikompaksi di laboratorium yang akan digunakan dalam perencanaan tebal perkerasan. Nilai CBR dalam % yang nantinya dipakai untuk menentukan tebal perkerasan.

Perkerasan jalan adalah lapisam-lapisan bahan yang dipasang di atas dasar untuk menerima beban lalu lintas sehingga beban tersebut ditambah berat perkerasan sendiri dapat dipikul oleh tanah dasar.

Tebal perkerasan jala tergantung kepada kekuatan tanah dasar, kekuatan bahan perkerasan, muatan roda, dan intensitas lalu lintas.

Untuk menentukan  tebal perkerasan secara umum biasanya kekuatan tanah dasar dinyatakan dalam nilai CBR (California Bearing Ratio) dimana nilai CBR adalah perbandingan kekuatan tanah dasar atau bahan lain yang dipakai untuk pembuatan perkerasan terhadap nilai CBR didapat dari percobaan baik, untuk contoh tanah asli (undisturbed sample) maupun contoh tanah yang dipadatkan (compacted sample). Percobaan CBR juga dapat dilakukan secara langsung di lapangan.

Pada perencanaan jalan baru, tebal perkerasan biasanya ditentukan dari nilai CBR yang dipergunakan untuk perencanaan disebut CBR desain (CBR design). Desain CBR didapat dari percobaan di laboratorium dengan memperhitungkan dua faktor,yaitu :

a. Kadar air tanah serta berat isi kering pada waktu dipadatkan.

b. Percobaan pada kadar air yang mungkin terjadi setelah perkerasan selesai dibuat.

Uji CBR pada saat ini hanya dikaitkan dengan perancangan tebal perkerasan. Agar hasilnya valid, prosedur standar harus dijaga. CBR merupakan parameter tak berdimensi dan tidak berkaitan langsung dengan sifat tanah yang lain.

Hello world!

Welcome to Students.uii.ac.id Blogs. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Packaged by Edublogs - education blogs.